Departemen Energi Amerika Serikat (AS) resmi menggelontorkan dana sebesar US$10 juta untuk mendanai tujuh proyek riset mutakhir. Langkah strategis ini diambil guna mempercepat pengembangan teknologi tahap awal dalam pemurnian dan pemulihan mineral kritis yang menjadi pilar penting bagi kemandirian industri energi masa depan.

Proyek-proyek inovatif ini berjalan di bawah koordinasi Critical Materials Innovation Hub (CMI Hub). Fokus riset diarahkan pada optimalisasi pengolahan unsur tanah jarang (rare earth elements), tembaga, galium, serta berbagai material strategis lainnya demi mengurangi ketergantungan pasokan dari luar negeri.

Menariknya, tiga proyek di antaranya secara khusus berfokus pada ekstraksi galium dari aliran limbah industri yang sudah ada, seperti sisa pengolahan bauksit-alumina dan residu peleburan seng. Pendekatan sirkular ini dirancang untuk meningkatkan pasokan material tanpa perlu membuka lahan pertambangan baru yang berdampak pada lingkungan.

Sejumlah institusi akademis dan korporasi terkemuka turut terlibat dalam program ini. Sebagai contoh, Case Western Reserve University mengembangkan teknologi elektrolisis garam cair untuk memurnikan logam tanah jarang berat. Sementara itu, Colorado School of Mines dan University of Arizona fokus pada inovasi ekstraksi tembaga menggunakan metode hidrometalurgi serta pemanfaatan teknologi nanogelembung.

Di sektor pengembangan material, FAST Metals dan Indium Corporation menggarap pemanfaatan resin penukar ion dan daur ulang residu produk sampingan untuk mengamankan pasokan galium domestik. Inisiatif serupa juga dikembangkan oleh University of Illinois Urbana-Champaign serta Oak Ridge National Laboratory melalui metode pemisahan elektrokimia dan metode ekstraksi fase padat.

Asisten Menteri Energi AS, Audrey Robertson, menegaskan bahwa ketujuh proyek ini diharapkan mampu memecahkan hambatan teknis utama dalam rantai pasok material kritis. Melalui terobosan teknologi ini, industri manufaktur AS diproyeksikan memiliki akses yang lebih stabil terhadap bahan baku penting guna mempertahankan daya saing di kancah global.