Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin (Unhas) meluncurkan program MY-SMART untuk menjembatani kesenjangan antara deteksi dini kesehatan mental di sekolah dengan penanganan medis. Langkah inovatif ini diwujudkan melalui skema Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) guna membangun sistem rujukan psikososial anak dan remaja yang lebih terstruktur dan berkesinambungan.
Program sosialisasi dan implementasi bertajuk "MY-SMART: Implementasi Model Tindak Lanjut Berjenjang Skrining Anak-Remaja" ini diselenggarakan di Al-Biruni Mandiri Senior and Junior High School. Agenda ini mempertemukan puluhan guru dan tenaga kesehatan dari berbagai sekolah serta Puskesmas di wilayah Makassar dan Gowa untuk menyamakan persepsi penanganan kesehatan mental siswa.
Profesor Ariyanti, selaku narasumber utama, menjelaskan bahwa MY-SMART dirancang agar hasil skrining kejiwaan siswa tidak berhenti pada tahap pendataan semata. Menurutnya, sistem ini mengandalkan tiga pilar utama: kartu penilaian (scorecard) untuk pemantauan berkala, dukungan teman sebaya (peer support), serta jalur krisis terintegrasi untuk mempercepat rujukan medis darurat.
Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci efektivitas program ini. Sementara pihak sekolah berperan memantau interaksi harian siswa, tenaga medis dari Puskesmas disiapkan untuk memberikan intervensi klinis yang lebih spesifik. Model berjenjang ini memastikan setiap anak mendapatkan penanganan yang proporsional sesuai tingkat gangguan psikososial yang mereka alami.
Selain pemaparan teori, para peserta yang terdiri dari perwakilan sekolah Islam Terpadu Al Biruni Mandiri, SD Minasa Upa, SMA 14 Gowa, serta beberapa Puskesmas seperti Puskesmas Somba Opu dan Kassi-Kassi, juga mengikuti simulasi kasus nyata. Melalui simulasi tersebut, para pendidik dan tenaga medis dilatih untuk merespons hasil skrining dengan cepat dan tepat demi mewujudkan kesejahteraan remaja yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).