Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Prof. Indroyono Soesilo, menegaskan pentingnya penguatan diplomasi sains dan teknologi antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Hal tersebut disampaikannya saat memberikan kuliah umum bertajuk "Diplomasi Sains & Teknologi Indonesia–Amerika Serikat" di hadapan lebih dari 1.100 mahasiswa di Aula Sasana Budaya Ganesha, Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu (2/9/2026).
Acara yang dihadiri Rektor ITB Prof. Tatacipta Dirgantara beserta jajaran pimpinan kampus tersebut menjadi momentum penting untuk mendiskusikan peluang kolaborasi strategis kedua negara. Dalam paparannya, Dubes Indroyono mengingatkan kembali sejarah panjang hubungan bilateral RI-AS sejak era perjuangan kemerdekaan hingga terbentuknya Kemitraan Strategis Komprehensif dengan Rencana Aksi 2024–2028 yang berlandaskan politik luar negeri bebas-aktif.
Menurut Indroyono, Indonesia dan AS memiliki keunggulan komparatif yang saling melengkapi. AS tercatat unggul dalam ekosistem riset dengan anggaran pengembangan mencapai 940 miliar dolar AS, sementara Indonesia memiliki keunggulan berupa keanekaragaman hayati, kekayaan sumber daya alam, serta potensi demografi yang besar. Sinergi kedua belah pihak dinilai sangat strategis untuk mengakselerasi pengembangan talenta STEM dan transfer teknologi di tanah air.
Lebih lanjut, Dubes Indroyono menawarkan peta jalan konkret kerja sama riset yang terhubung langsung dengan kebutuhan industri. Langkah awal yang diusulkan mencakup pembentukan komite bersama dengan fokus pada sektor prioritas, seperti semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), energi terbarukan, kesehatan, manufaktur maju, hingga maritim. Sebagai institusi pendidikan tinggi terkemuka, ITB diharapkan dapat menjadi simpul utama dalam memperkuat ekosistem inovasi nasional tersebut.