Fenomena munculnya iklan produk di platform e-commerce seperti Shopee sesaat setelah dibicarakan secara lisan sering kali menimbulkan kecurigaan bahwa ponsel pintar secara diam-diam menyadap percakapan penggunanya. Namun, para ahli teknologi menegaskan bahwa hal tersebut bukanlah hasil dari penyadapan suara pasif, melainkan kerja algoritma prediktif yang sangat canggih dan terstruktur.
Secara teknis, merekam dan menganalisis miliaran data audio percakapan manusia setiap hari membutuhkan infrastruktur server yang sangat mahal, konsumsi daya baterai yang boros, serta berisiko melanggar undang-undang privasi global. Perusahaan teknologi besar seperti Meta dan Google pun secara konsisten membantah tuduhan penggunaan mikrofon untuk penargetan iklan tanpa izin.
Di balik layar, sistem periklanan digital memanfaatkan jaringan pelacak tak terlihat yang tertanam di berbagai aplikasi dan situs web, seperti Meta Pixel atau Google SDK. Informasi pencarian, artikel yang dibaca, hingga riwayat lokasi diolah menggunakan metode retargeting dan Real-Time Bidding (RTB) dalam hitungan milidetik guna memenangkan slot iklan yang paling relevan dengan profil pengguna saat aplikasi e-commerce dibuka.
Selain kecanggihan teknologi, fenomena ini juga dipengaruhi oleh faktor psikologis yang dikenal sebagai Baader-Meinhof Phenomenon atau ilusi frekuensi. Pada dasarnya, sistem menyajikan ribuan iklan setiap hari yang kerap diabaikan oleh otak manusia. Namun, begitu sebuah produk dibahas secara lisan, kesadaran otak terhadap barang tersebut meningkat tajam, membuat kemunculan iklannya kemudian terasa seperti sebuah kebetulan yang mengejutkan.
Pengguna yang merasa tidak nyaman dengan pelacakan data personal ini dapat melakukan langkah mitigasi seperti membatasi izin mikrofon aplikasi, menonaktifkan fitur personalisasi iklan pada pengaturan akun Google atau media sosial, serta rutin menghapus riwayat penjelajahan. Meskipun langkah ini tidak menghentikan iklan sepenuhnya, frekuensi iklan yang bersifat sangat personal akan berkurang signifikan.