Pemulihan fasilitas dan pelayanan kesehatan di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menghadapi kendala besar hampir dua pekan setelah diguncang gempa bumi dan tsunami pada pertengahan Agustus 2026. Berdasarkan data terbaru, belasan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di wilayah terdampak dilaporkan belum bisa beroperasi secara normal akibat kerusakan infrastruktur yang cukup parah.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merilis data per Rabu (26/8/2026) yang menunjukkan dari 169 puskesmas yang tersebar di tujuh kabupaten terdampak, sebanyak 19 unit masih lumpuh total. Sementara itu, 49 puskesmas baru melayani pasien secara terbatas, dan 101 unit lainnya sudah kembali beroperasi penuh. Kerusakan fisik menjadi kendala utama, dengan rincian 38 puskesmas rusak berat, 52 rusak sedang, dan 28 rusak ringan. Tiga rumah sakit utama di wilayah tersebut juga dilaporkan mengalami kerusakan struktural yang serius.

Guna mengantisipasi lumpuhnya fasilitas utama, pelayanan medis darurat terpaksa dialihkan ke area luar gedung, selasar, hingga rumah sakit lapangan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mendirikan 122 tenda darurat di depan puskesmas serta mengoperasikan dua rumah sakit lapangan di wilayah Ruteng dan Aeramo. Langkah cepat ini diambil menyusul laporan BNPB kepada Presiden Prabowo Subianto yang mencatat jatuhnya korban jiwa sebanyak 105 orang dan 1.678 orang luka-luka akibat bencana tersebut.

Di posko-posko pengungsian, ancaman gangguan kesehatan mulai merebak seiring menurunnya kondisi sanitasi dan lingkungan. Kemenkes mencatat penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan batuk menjadi keluhan paling dominan dengan temuan mencapai 9.668 kasus. Penyakit lain yang turut diwaspadai meliputi 4.686 kasus hipertensi, 1.017 kasus nyeri otot (myalgia), 662 kasus trauma fisik, serta 627 kasus diare akut. Selain itu, ditemukan pula 35 kasus gigitan hewan penular rabies di wilayah Nagekeo, Ngada, dan Manggarai Timur.

Merespons situasi darurat ini, pemerintah bergerak cepat mengirimkan bantuan tenaga medis dan logistik. Sebanyak 207 Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) telah diterjunkan ke titik-titik krusial, melengkapi total 392 personel kesehatan yang bersiaga di lapangan. Pasokan logistik berupa tenda rumah sakit darurat, peralatan medis darurat, konsentrator oksigen, obat-obatan, hingga 1.500 ampul Anti Tetanus Serum (ATS) terus didistribusikan demi mempercepat pemulihan layanan kesehatan bagi warga Flores.