Forum internasional World Encounter Summit 2026 yang digelar di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali mempertemukan para pemimpin global, akademisi, dan praktisi teknologi dari lima benua. Pertemuan yang mencakup Bali Harmony Dialogue serta XI International Scholas Chairs Congress ini berfokus pada diskusi mendalam mengenai arah perkembangan dan dampak pesat kecerdasan buatan (AI) bagi peradaban manusia.
Dalam rangkaian acara yang berlangsung pada 3 hingga 6 September 2026 tersebut, para peserta menyoroti ketimpangan akses terhadap teknologi modern. Kesenjangan daya komputasi, infrastruktur digital, hingga kesiapan talenta di berbagai negara dinilai menjadi tantangan mendesak. Pembahasan menekankan bahwa pemerataan manfaat AI bukan sebatas inovasi teknis, melainkan menyangkut isu keadilan sosial, ekonomi, serta moral.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional RI, Luhut B. Pandjaitan, menegaskan posisi Indonesia yang tidak boleh sekadar menjadi pengguna pasif di era digital. Menurutnya, Indonesia harus membangun kapasitas domestik secara mandiri melalui penguatan pendidikan berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) yang diselaraskan dengan pemanfaatan energi bersih.
Senada dengan hal tersebut, Menteri Komunikasi dan Digital RI, Meutya Hafid, menyatakan bahwa tingginya minat generasi muda terhadap AI wajib diimbangi dengan kebijakan strategis, riset, dan penguatan infrastruktur agar Indonesia bertransformasi menjadi pencipta teknologi. Sementara itu, Direktur Eksekutif Scholas Occurrentes, Maria Paz Jurado, mengingatkan bahwa tantangan utama era modern bukan sekadar menguji kehebatan mesin, melainkan menentukan nilai-nilai kemanusiaan yang hendak dibangun bersama teknologi tersebut.