BANDAR LAMPUNG – Mahasiswa Program Studi Manajemen Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya mendapat kesempatan berharga menimba ilmu langsung dari pelaku usaha muda saat mengikuti Seminar Transformasi Pembelajaran Outcome-Based Education (OBE) bertema pengembangan kompetensi kewirausahaan. Acara tersebut menghadirkan Bagas Wicaksana, pendiri sekaligus pemilik brand kuliner Mowgrill, sebagai pembicara utama yang memaparkan lika-liku perjalanan bisnisnya secara gamblang.

Ketua Program Studi Manajemen IIB Darmajaya, Dr. Novita Sari, membuka seminar dengan pesan kuat kepada para mahasiswa agar segera mengubah paradigma berpikir. Didampingi oleh Lukman Hakim selaku penanggung jawab kegiatan, ia menekankan pentingnya menumbuhkan mentalitas pengusaha sejak masa perkuliahan. "Jangan pernah berpikir menjadi seorang pekerja, tetapi berpikirlah menjadi seorang pengusaha. Kami berharap seminar ini mampu memantik keberanian mahasiswa untuk memulai usaha sejak masih di bangku kuliah," tegasnya.

Bagas Wicaksana membuka sesi paparannya dengan menceritakan awal mula terjun ke dunia bisnis pada 2019, ketika ia merintis usaha minuman boba di Pringsewu. Didorong oleh semangat muda yang membara, ia lantas merambah berbagai lini usaha, mulai dari fashion, reseller sepatu dan pakaian, hingga budidaya lele. Namun, keputusan mengelola beberapa bisnis secara bersamaan justru berujung pada kegagalan besar yang menjadi titik balik dalam kariernya.

"Saya pernah menjalankan tiga bisnis sekaligus, yaitu F&B, fashion, dan ternak lele. Awalnya semua tampak berjalan baik, tetapi karena tidak fokus, dalam waktu sekitar tiga bulan semuanya hancur. Dari pengalaman itu saya memahami bahwa kunci berbisnis adalah fokus pada satu bidang yang benar-benar dikuasai," ungkap Bagas kepada para peserta seminar.

Pengusaha muda ini mengaku bahwa ketertarikannya pada dunia wirausaha telah tersemai sejak masa SMP dan SMA, ketika ia rajin menghadiri berbagai seminar kewirausahaan. Meskipun belum sepenuhnya memahami materi saat itu, pengalaman tersebut secara perlahan membentuk pola pikir dan mentalitas bisnisnya. Ia pun mendorong mahasiswa untuk menjadikan masa kuliah sebagai momentum tidak hanya menggali ilmu, tetapi juga menghasilkan karya dan keuntungan finansial melalui usaha mandiri.

"Proses belajar tidak hanya terjadi di dalam kampus, tetapi juga melalui pengalaman langsung di dunia usaha. Saat masih kuliah atau bahkan ketika sudah bekerja nanti, usahakan tetap memiliki bisnis," pesan Bagas.

Titik balik kesuksesan Bagas bermula pada 2022, ketika ia menangkap peluang dari kebutuhan masyarakat Pringsewu yang harus menempuh perjalanan ke Bandar Lampung hanya untuk menikmati hidangan grill. Ia kemudian mendirikan layanan BBQ Home Service dengan modal awal sekitar Rp7,5 juta. Menurutnya, besaran modal bukanlah faktor penentu keberhasilan. "Yang terpenting bukan besar kecil modalnya, tetapi keberanian memulai dan konsisten mengembangkannya," jelasnya.

Strategi pemasaran melalui media sosial terbukti menjadi katalis pertumbuhan bisnisnya. Saat pertama kali diluncurkan, sekitar 80 orang turut membagikan ulang promosi usahanya sehingga jangkauan pasar meluas dengan cepat. Dalam hitungan bulan, omzet usahanya melonjak hingga dua kali lipat dari pencapaian awal.

Meski demikian, Bagas tidak luput dari cobaan. Upayanya mengembangkan lini produk rice bowl berbahan dasar daging sapi ternyata tidak selaras dengan positioning merek yang telah dibangun, sehingga mengakibatkan kerugian mencapai Rp17 juta. Pengalaman pahit tersebut justru memperkuat keyakinannya bahwa konsistensi terhadap identitas merek dan ketepatan dalam membidik target pasar merupakan fondasi utama keberlangsungan bisnis.

Seminar ini memberikan gambaran nyata kepada mahasiswa tentang dinamika dunia wirausaha, mulai dari proses merintis bisnis, menghadapi kegagalan, hingga bangkit kembali dengan strategi yang lebih matang. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen Program Studi Manajemen IIB Darmajaya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berjiwa entrepreneur, inovatif, dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat di masa depan.