Permasalahan klasik rantai pasok dan produktivitas tebu rakyat kini mulai diurai melalui langkah integrasi hulu-hilir. Pemerintah mendorong optimalisasi peran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) sebagai wadah konsolidasi hasil panen petani tebu, yang nantinya akan langsung diserap oleh PT PG Rajawali I, anak usaha BUMN pangan ID Food. Upaya ini dirancang untuk memberikan kepastian pasar sekaligus stabilitas harga di tingkat produsen.
Dalam forum Rembuk Petani Tebu Rakyat yang digelar di Semarang, Jawa Tengah, Menteri Koperasi Ferry Juliantono menegaskan komitmen pemerintah untuk mewujudkan swasembada gula nasional. Menurutnya, revitalisasi tata kelola koperasi tani menjadi kunci utama dalam meningkatkan kesejahteraan para petani tebu secara berkelanjutan. Langkah konkret juga disiapkan melalui sinergi dengan Kementerian Pertanian demi merumuskan solusi komprehensif di sektor perkebunan dan tanaman pangan.
Sebagai bentuk dukungan permodalan dan manajemen, Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi akan dikerahkan untuk mendampingi transformasi koperasi tani tebu. LPDB tidak hanya bertugas mengucurkan pembiayaan, melainkan juga melakukan program inkubasi dan asistensi tata kelola agar entitas koperasi lokal dapat beroperasi lebih profesional dan produktif.
Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyoroti potensi besar sektor ini untuk mewujudkan kemandirian pangan nasional, termasuk pemenuhan kebutuhan energi terbarukan melalui pengembangan bioetanol berbasis tebu. Meskipun konsumsi rumah tangga saat ini sudah terpenuhi dari produksi lokal, pemerintah terus berupaya menekan ketergantungan impor gula rafinasi untuk kebutuhan industri.
Tantangan produktivitas masih membayangi sektor ini. Hingga akhir Juni 2026, produksi gula nasional tercatat baru mencapai 456,9 ribu ton atau sekitar 15 persen dari target tahunan sebesar 3 juta ton. Kondisi ini diproyeksikan melonjak saat memasuki puncak musim giling pada Juli hingga September. Sekitar 60 hingga 65 persen bahan baku tebu nasional nyatanya bergantung pada perkebunan rakyat.
Namun, performa kebun rakyat saat ini dinilai belum optimal karena produktivitasnya masih berkisar di angka 65–75 ton per hektare dengan kadar rendemen 7–8 persen. Kendala ini dipicu oleh maraknya tanaman tebu usia tua yang minim peremajaan, keterbatasan teknologi budidaya, serta inefisiensi mesin penggilingan di pabrik gula yang sudah berusia puluhan tahun.