Pemerintah Jepang mengambil langkah strategis dengan mengalokasikan subsidi sebesar 660 juta dolar AS atau setara Rp10 triliun untuk mempercepat pengembangan dan membangun rantai pasok baterai solid-state (ASSB). Langkah ini merupakan bagian integral dari Rencana Jaminan Pasokan Stabil Baterai negara tersebut, yang secara spesifik menargetkan teknologi baterai generasi berikutnya guna mendukung transisi energi global.

Dana subsidi yang signifikan ini ditujukan untuk mencapai komersialisasi penuh teknologi ASSB pada tahun 2030. Tak hanya baterai solid-state, rencana strategis ini juga mencakup pengembangan baterai lithium besi fosfat (LFP) berbiaya rendah, menunjukkan pendekatan dua jalur dalam memenuhi kebutuhan pasar kendaraan listrik yang beragam.

Raksasa otomotif asal Jepang seperti Toyota, Honda, dan Nissan dilaporkan sudah memulai operasi lini produksi percontohan untuk baterai solid-state. Meskipun Jepang saat ini memimpin dalam hal kepemilikan paten dan penguasaan teknologi ASSB, tantangan besar tetap ada, terutama dalam persaingan dengan baterai LFP yang murah dari China serta pemain global lainnya.

Industri otomotif Jepang kini berfokus pada peningkatan hasil produksi, kualitas, dan upaya penurunan biaya bahan baku utama pada tahun 2026. Tujuannya adalah untuk mempertahankan daya saing dan memperkuat posisi di pasar mobil listrik global yang semakin kompetitif dan didorong oleh inovasi teknologi baterai.