Penurunan daya beli membayangi industri telepon pintar (smartphone) di Asia Tenggara pada kuartal kedua tahun 2026. Berdasarkan laporan terbaru dari lembaga riset Counterpoint Research, volume pengiriman gawai di kawasan ini merosot hingga 15 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), dipicu oleh lonjakan biaya produksi serta melambungnya harga jual perangkat di tingkat konsumen.

Di tengah tren penurunan pasar tersebut, raksasa teknologi asal Korea Selatan, Samsung, justru menunjukkan tajinya dengan memperkokoh dominasi pasar. Samsung sukses mengamankan 24 persen pangsa pasar di Asia Tenggara pada kuartal II 2026, naik signifikan dibandingkan raihan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 19 persen. Samsung juga menjadi satu-satunya pemain utama yang membukukan pertumbuhan pengiriman positif, yakni naik 6 persen secara tahunan.

Posisi berikutnya diisi oleh Xiaomi yang menguasai 18 persen pangsa pasar, relatif stabil tanpa perubahan berarti dibanding tahun lalu. Sebaliknya, Oppo harus puas di posisi ketiga dengan pangsa pasar 17 persen, mengalami penurunan tajam dari sebelumnya yang mencapai 22 persen. Sementara itu, Transsion—induk dari merek Infinix dan Tecno—berada di peringkat keempat dengan pangsa pasar 15 persen, diikuti oleh Apple di posisi kelima dengan raihan 9 persen.

Menariknya, laporan ini juga mengungkap perubahan perilaku konsumen yang cenderung beralih ke perangkat dengan spesifikasi lebih tinggi. Penurunan paling drastis terjadi pada segmen entry-level berharga di bawah USD 150 (sekitar Rp2,3 juta) sebesar 38 persen YoY. Namun, segmen menengah ke atas (upper mid-range) dengan rentang harga USD 500 hingga USD 699 justru melonjak drastis hingga 74 persen. Segmen flagship di atas USD 700 pun mencatat kenaikan positif sebesar 18 persen.

Analis memproyeksikan tantangan di pasar smartphone Asia Tenggara masih akan berlanjut hingga paruh kedua tahun 2026. Sikap hati-hati konsumen dalam membelanjakan uangnya, dikombinasikan dengan keterbatasan produsen dalam melakukan penyesuaian harga di tengah inflasi biaya produksi, diperkirakan akan terus menekan angka pengiriman gawai di kawasan ini.