Upaya Indonesia menekan emisi karbon di sektor manufaktur terus dipacu demi mencapai target emisi nol bersih (net zero emission) pada 2050. Kementerian Perindustrian mematok target ini sepuluh tahun lebih awal dibanding target nasional 2060, mengingat sektor industri pengolahan menyumbang sekitar 19,07 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sekaligus menjadi salah satu konsumen energi fosil terbesar.
Salah satu tantangan mendasar dekarbonisasi industri terletak pada pemenuhan energi pemanasan proses (process heat) yang menyerap hingga 45 persen dari total konsumsi energi sektor pengolahan. Pemanasan tidak langsung bertemperatur rendah hingga menengah di bawah 200 derajat Celsius—yang selama ini mengandalkan boiler batu bara, gas alam, dan minyak—menjadi area dengan peluang dekarbonisasi paling signifikan.
Untuk mengatasi ketergantungan bahan bakar fosil tersebut, penerapan teknologi heat pump dinilai sebagai solusi strategis. Berbeda dari sistem konvensional berbasis pembakaran, heat pump mengandalkan listrik untuk memindahkan panas ke proses produksi dengan efisiensi tinggi. Dengan Coefficient of Performance (COP) mencapai 3 hingga 4, setiap satu unit energi listrik yang digunakan mampu menghasilkan tiga hingga empat unit energi panas.
Meski penetrasinya di Indonesia masih menghadapi tantangan berupa besarnya investasi awal dan penyesuaian infrastruktur pabrik lama, efisiensi teknologi ini sangat menjanjikan. Heat pump diperkirakan sanggup memangkas penggunaan energi industri sebesar 30 hingga 50 persen, sekaligus memperkuat daya saing manufaktur nasional di tengah era transisi ekonomi hijau global.