JAKARTA — Menjawab tuntutan rantai pasok global yang makin mengedepankan transparansi, Alliance for Integrity (AfIN) di bawah naungan Transparency International Indonesia bersinergi dengan UN Global Compact Network Indonesia (IGCN) dan PT Paragon Technology and Innovation (ParagonCorp). Kolaborasi ini diwujudkan melalui pelatihan "Dari Usaha ke Usaha" (DUKU) yang digelar di Jakarta pada Rabu (5/8/2026), guna memperkuat kapasitas pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dalam menerapkan tata kelola yang bersih dan akuntabel.

Sebanyak 16 pelaku UKM yang merupakan bagian dari rantai pasok ParagonCorp berkesempatan mendalami materi pencegahan korupsi secara praktis. Pelatihan ini dirancang untuk membantu peserta memetakan risiko kecurangan, menyusun sistem integritas internal, serta merumuskan aksi kolaboratif bersama mitra guna menciptakan ekosistem bisnis lokal yang sehat dan kompetitif.

Saat ini, peran UKM tidak lagi terbatas sebagai motor pertumbuhan ekonomi daerah, melainkan telah berintegrasi langsung ke dalam rantai pasok korporasi besar. Kemitraan strategis semacam ini menuntut standar operasional yang tinggi, di mana kredibilitas, etika bisnis, dan keberlanjutan menjadi parameter mutlak yang menentukan keberhasilan UKM dalam menembus pasar yang lebih luas.

Dalam pelatihan DUKU, para peserta dibekali tiga pilar utama kurikulum AfIN, yaitu Understand (Memahami), Build (Membangun), dan Share (Berbagi). Tidak sekadar teori, pendekatan yang digunakan bersifat interaktif lewat bedah kasus nyata dan penyusunan rencana aksi konkret yang dapat langsung diimplementasikan pada operasional harian masing-masing UKM.

Menariknya, AfIN juga meluncurkan pembaruan modul pelatihan yang disesuaikan dengan dinamika industri terkini. Pembaruan ini mencakup pembahasan mengenai benturan kepentingan (conflict of interest), pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mengevaluasi kode etik perusahaan, serta pengenalan "The Integrity App"—sebuah aplikasi digital yang memudahkan UKM melakukan asesmen mandiri terhadap tingkat kepatuhan bisnis mereka.

Economic Governance Officer Transparency International Indonesia, Asri Widayati, menjelaskan bahwa penyempurnaan modul ini bertujuan memberikan solusi praktis bagi tantangan modern pelaku usaha. Melalui instrumen baru seperti AI dan aplikasi penilaian mandiri, UKM diharapkan lebih mudah mengidentifikasi celah risiko kepatuhan sekaligus meningkatkan kepercayaan para mitra kerja secara berkelanjutan.