Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja, menekankan pentingnya bagi para pemimpin industri untuk fokus pada aspek-aspek yang dapat dikendalikan dalam menghadapi era ketidakpastian. Menurut bankir senior ini, kegagalan mengelola hal-hal di luar kontrol justru akan menjadi bumerang bagi organisasi. Pandangan tersebut ia sampaikan dalam acara peluncuran buku "The Art of Banker" di Jakarta pada Jumat (14/8/2026).

Dalam menavigasi dinamika bisnis, Jahja membeberkan tiga pilar utama yang menjadi fondasi kepemimpinannya, yaitu personel, proses, dan digitalisasi. Terkait aspek personel, ia menerapkan pendekatan kepemimpinan yang melayani (servant leadership). Jahja menganalogikan peran pemimpin layaknya seorang dirigen orkestra yang bertugas menyelaraskan berbagai talenta berbeda demi mencapai tujuan bersama, bukan sebagai sosok yang serba tahu.

Pendekatan humanis juga menjadi kunci dalam memperkuat loyalitas tim. Jahja kerap membangun kedekatan emosional dengan jajaran pimpinan melalui perhatian kecil, seperti mengirimkan ucapan selamat ulang tahun secara personal. Selain itu, pendelegasian wewenang secara terukur wajib dilakukan demi kelancaran operasional organisasi yang besar, dengan catatan tetap disertai pengawasan tanpa mencari kambing hitam saat terjadi kekeliruan.

Aspek kedua, yaitu proses, menitikberatkan pada penyederhanaan alur kerja melalui pemanfaatan teknologi. Kendati demikian, Jahja mengingatkan agar adopsi teknologi mutakhir, termasuk kecerdasan buatan (AI), tidak ditelan mentah-mentah. Pengalaman pribadinya menunjukkan bahwa validitas data dari platform AI tetap memerlukan verifikasi dan pemikiran kritis manusia agar tidak menyesatkan.

Pada pilar ketiga, digitalisasi harus disesuaikan dengan kapasitas finansial dan skala korporasi. Bagi institusi besar seperti BCA, kepemilikan infrastruktur mandiri berupa pusat data (data center) merupakan investasi krusial. Jahja mengibaratkan organisasi sebagai mobil sport mewah yang melaju di jalan tol; kecepatan harus disesuaikan dengan kondisi jalan guna menghindari fatalitas.

Sebagai penutup, ia mengingatkan agar para pengambil keputusan tidak hanya mengandalkan romantisasi masa lalu dalam memproyeksikan masa depan. Integrasi antara pembelajaran sejarah dan analisis data terkini secara komprehensif merupakan instrumen paling efektif untuk memprediksi arah perkembangan industri ke depan secara akurat.