Muktamar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jombang dinilai memiliki posisi strategis yang melampaui batas forum internal keagamaan. Pertemuan tertinggi warga Nahdliyin ini dipandang sebagai salah satu episentrum penting yang mampu memengaruhi arah politik nasional sekaligus menjadi ruang untuk merajut kembali persatuan bangsa.
Pandangan tersebut disampaikan oleh tokoh muda NU asal Kalimantan Utara, Alkindi Bilfaqih. Pengasuh Yayasan Alhikam Cinta Indonesia ini menilai bahwa dinamika politik tanah air saat ini membutuhkan ruang dialog yang sejuk, dan NU memiliki modal sosial, kultural, serta spiritual yang kuat untuk menjembatani berbagai perbedaan tersebut.
Di sela-sela agenda muktamar, Alkindi aktif membangun komunikasi dan konsolidasi dengan berbagai pengurus cabang, khususnya dari wilayah Indonesia Timur. Menurutnya, politik yang bersumber dari pemikiran para ulama harus menjadi barometer moral bagi perpolitikan nasional. Ia bahkan menyarankan agar persoalan kebangsaan yang krusial dibahas secara mendalam melalui forum bahtsul masail.
Selain dimensi politik, Alkindi mengingatkan para peserta muktamar untuk senantiasa menjaga adab dan etika selama berada di Jombang. Kota ini memiliki nilai historis dan spiritual yang mendalam bagi warga NU, sebagai tempat kelahiran organisasi sekaligus tempat bersemayamnya para ulama besar pendiri NU.