Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Cirebon kini tengah mengintensifkan program pendampingan bagi para petani lokal agar segera mengadopsi teknologi pascapanen modern. Langkah strategis ini diambil guna meminimalkan penyusutan hasil panen sekaligus mendongkrak kualitas komoditas pertanian daerah agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Kepala Distan Kabupaten Cirebon, Deni Nurcahya, menjelaskan bahwa transisi dari metode pertanian konvensional menuju sistem mekanisasi dan digital mutlak diperlukan. Menurut data dinas setempat, pola pengolahan tradisional yang masih dominan di kalangan petani memicu tingkat kehilangan hasil pascapanen (losses) yang cukup tinggi, yakni berkisar antara 8 hingga 12 persen.

Guna mengatasi persoalan tersebut, pemerintah daerah mendorong pemanfaatan alat pengering vertikal (vertical dryer). Teknologi ini menjadi solusi efektif menggantikan metode penjemuran konvensional di bawah terik matahari yang kerap terkendala faktor cuaca yang tidak menentu. Selain itu, penjajakan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) juga mulai diperkenalkan untuk membantu proses pemilahan (sortir) gabah secara presisi dan cepat.

Deni menambahkan, peningkatan mutu beras dari kualitas medium menjadi premium sangat bergantung pada efisiensi pascapanen ini. Selama ini, produk lokal sering kali dihargai rendah karena banyaknya gabah yang patah atau tercampur kotoran akibat proses manual. Dengan standarisasi mutu yang lebih baik lewat sentuhan teknologi, petani Cirebon diharapkan memiliki daya tawar harga yang lebih tinggi dan mampu menembus jaringan pasar retail modern maupun industri pengolahan pangan skala besar.