Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tajam hingga 16 persen dalam kurun waktu tiga hari terakhir menjelang pengumuman kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Koreksi harga energi ini dinilai mampu meredakan kecemasan terhadap lonjakan inflasi global sekaligus memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan tingkat suku bunga acuannya.
Pada penutupan perdagangan Selasa (28/7/2026), minyak mentah Brent merosot 4,8 persen ke level US$84,09 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 4,1 persen menjadi US$79,26 per barel. Penurunan kumulatif ini dipicu oleh optimisme pasar terkait rencana kelanjutan dialog damai antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi mengurangi risiko hambatan pasokan energi global.
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, probabilitas The Fed untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen kini berada di angka 62 persen. Meredanya harga komoditas energi ini memberikan kelegaan bagi pasar keuangan dunia, karena inflasi yang lebih terkendali memberikan ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter mereka di masa mendatang.
Di dalam negeri, indikator pasar keuangan terpantau bergerak bervariasi. Nilai tukar rupiah bergerak stabil di kisaran Rp18.077 per dolar AS, sementara imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun bertahan pada level 7,374 persen. Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mengalami tekanan dan ditutup melemah ke posisi 6.130,59 pada 28 Juli 2026.
Situasi pasar saat ini memberikan angin segar bagi sejumlah instrumen investasi. Reksadana pendapatan tetap yang berbasis obligasi negara menjadi sangat menarik, terutama jika tren SBN yield mulai menunjukkan penurunan yang akan mendorong kenaikan harga obligasi. Sementara itu, untuk menghadapi fluktuasi jangka pendek, reksadana pasar uang tetap direkomendasikan bagi investor yang memprioritaskan likuiditas serta stabilitas modal.
Koreksi harga juga merambah ke komoditas emas dunia yang turun ke level US$4.021,90 per troy ounce akibat meredanya kekhawatiran inflasi. Kendati demikian, emas tetap dinilai sebagai pilihan tepat untuk diversifikasi portofolio investasi guna melindungi nilai aset di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global yang masih belum sepenuhnya stabil.