Pengadopsian teknologi mutakhir dinilai menjadi pilar krusial dalam mempercepat transisi energi yang berkeadilan di Indonesia. Melalui integrasi inovasi di sektor energi terbarukan dan pengelolaan lingkungan, langkah menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060 diharapkan dapat tercapai tanpa mengorbankan kesejahteraan para pekerja.
Pandangan tersebut dikemukakan oleh dosen Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (UNAIR), Tahta Amrillah, Ph.D. Ia menjadi pembicara dalam lokakarya kolaboratif antara International Labour Organization (ILO) Indonesia dan SDGs Center UNAIR bertajuk "The Future of Just Energy Transition in Indonesia: Ensuring No Worker is Left Behind" yang digelar di Gedung Rektorat Kampus MERR-C UNAIR, Surabaya.
Menurut Tahta, peta jalan transisi energi nasional tidak boleh dipisahkan dari komitmen Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030. Ketujuh belas poin dalam SDGs saling berkelindan untuk menciptakan keseimbangan yang kokoh antara kemajuan ekonomi, kelestarian lingkungan hidup, serta keadilan sosial bagi masyarakat.
Indonesia sendiri memegang peran geopolitik dan ekologis yang sangat strategis dalam menekan emisi global berkat bentang hutan tropisnya yang luas. Kendati demikian, potensi alamiah tersebut wajib disinergikan dengan penguasaan teknologi mutakhir agar pemanfaatan ruang hidup tetap berjalan selaras dengan agenda konservasi.
Sejumlah terobosan teknologi diproyeksikan menjadi katalis transisi ini, mulai dari optimalisasi energi surya, angin, hidrogen, biomassa, hingga implementasi teknologi penangkapan karbon (carbon capture) dan material ramah lingkungan. Penerapan inovasi ini juga mencakup digitalisasi pemantauan lingkungan di sektor manufaktur, pertanian, serta pertambangan.
Kendati inovasi teknologi mampu mereduksi emisi secara signifikan, Tahta mengingatkan bahwa kesiapan sumber daya manusia (SDM) lokal tetap menjadi faktor penentu. Peningkatan kompetensi tenaga kerja mutlak diperlukan agar mereka siap beradaptasi dengan lanskap industri hijau yang terus berkembang pesat.
Keberhasilan agenda besar ini membutuhkan gotong royong lintas sektor yang solid. Sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku industri, dan masyarakat sipil menjadi prasyarat mutlak agar transisi energi tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga inklusif bagi seluruh lapisan pekerja tanah air.