Pandangan bahwa lulusan fakultas keguruan dan ilmu pendidikan hanya bisa berkarier sebagai guru di ruang kelas kini mulai bergeser. Seiring pesatnya kemajuan teknologi dan dinamika kebutuhan belajar masyarakat, muncul sebuah ceruk bisnis baru yang menjanjikan, yaitu edupreneurship atau wirausaha di sektor pendidikan.
Konsep edupreneur mengawinkan dunia akademis dengan keterampilan bisnis. Pelakunya tidak sekadar mentransfer ilmu, melainkan mampu merancang produk, jasa, maupun terobosan inovatif yang bernilai ekonomis sekaligus menjawab persoalan riil di tengah masyarakat.
Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (UNIKAMA), Dr. Cicilia Ika Rahayu Nita, M.Pd., menjelaskan bahwa prospek kerja lulusan pendidikan saat ini berkembang sangat dinamis. Alumni kini banyak berkarier sebagai konsultan pendidikan, pelatih korporat (corporate trainer), pembuat konten edukatif, pengelola lembaga kursus, hingga berkiprah di industri teknologi pendidikan (EdTech).
Di era digital, ruang dan waktu tidak lagi menjadi pembatas proses transfer ilmu. Kebutuhan masyarakat akan pembelajaran daring, kelas webinar, serta media interaktif membuka peluang besar bagi para calon wirausahawan pendidikan. Di sinilah kompetensi pedagogik yang dimiliki sarjana pendidikan menjadi modal utama yang sangat bernilai.
Kendati demikian, untuk menjadi wirausahawan pendidikan yang kompetitif, kemampuan mengajar saja tidak cukup. Dibutuhkan keseimbangan antara keterampilan teknis (hard skills), kecakapan sosial (soft skills), literasi digital, hingga kepekaan dalam membaca kebutuhan pasar.
Guna merespons kebutuhan industri tersebut, FIP UNIKAMA terus mengadaptasi metode pembelajaran mereka. Mahasiswa dibekali dengan kurikulum yang mengintegrasikan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), pembelajaran berbasis proyek, pengabdian masyarakat, serta program sertifikasi kompetensi untuk mematangkan jiwa kewirausahaan mereka.