Perkembangan tren kendaraan listrik (electric vehicle/EV) tidak hanya mengubah peta industri otomotif global, tetapi juga membuka ceruk bisnis baru bagi para produsen komponen lokal. Salah satu komponen yang kerap luput dari perhatian namun memiliki peran krusial adalah aki 12 volt. Banyak masyarakat berasumsi bahwa mobil listrik sepenuhnya bergantung pada baterai traksi bertegangan tinggi yang terpasang di kolong sasis. Faktanya, kendaraan ramah lingkungan ini tetap membutuhkan pasokan daya sekunder dari aki konvensional.

Aki 12 volt tersebut berfungsi vital untuk menghidupkan sistem kontrol awal (ECU) sesaat sebelum baterai utama menyalurkan daya ke motor penggerak. Selain itu, berbagai fitur penunjang kenyamanan dan keselamatan berkendara seperti lampu, wiper, klakson, hingga sistem hiburan audio sepenuhnya mengandalkan daya dari aki bertegangan rendah ini. Hal ini menegaskan bahwa keberadaan aki konvensional masih belum tergantikan di era elektrifikasi.

Bagi pelaku industri, kebutuhan yang berkelanjutan terhadap aki khusus EV ini menawarkan prospek bisnis yang sangat menjanjikan. Seiring dengan melonjaknya populasi kendaraan listrik, permintaan terhadap unit aki pengganti (aftermarket) diproyeksikan akan meningkat tajam. Para produsen aki kini dituntut untuk terus berinovasi menghasilkan produk yang lebih efisien dan tahan lama guna menangkap peluang pasar baru ini.