Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) tengah bersiap meluncurkan observatorium terbarunya, Nancy Grace Roman Space Telescope, menggunakan roket Falcon Heavy milik SpaceX dari Kennedy Space Center. Proyek ambisius senilai 4,3 miliar dolar AS ini digadang-gadang sebagai penerus legendaris Teleskop Hubble. Misi utamanya adalah memetakan ekspansi alam semesta serta mendeteksi keberadaan planet-planet luar (exoplanet) yang mengorbit bintang-bintang jauh.

Menariknya, instrumen canggih ini pada awalnya tidak dirancang untuk penelitian astronomi. Sasis utama teleskop tersebut merupakan hibah dari National Reconnaissance Office (NRO), badan intelijen AS. Satelit tersebut semula diproduksi untuk memata-matai target terestrial pasca-tragedi 9/11, namun proyek intelijen militer itu dihentikan sebelum sempat meluncur ke orbit Bumi.

Proses hibah ini sempat mengejutkan komunitas ilmiah. Kosmolog dari Duke University, Daniel Scolnic, menceritakan bahwa pihak NRO secara tak terduga menawarkan satelit menganggur tersebut agar kameranya dihadapkan ke arah luar angkasa, bukan ke Bumi. Keberadaan satelit militer yang tiba-tiba diserahkan di depan pintu Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA ini juga sempat membuat heran banyak astrofisikawan dunia.

Guna mengubah fungsi satelit mata-mata tersebut menjadi alat penelitian kosmis, NASA melakukan serangkaian modifikasi besar-besaran. Tim insinyur mengintegrasikan kamera inframerah resolusi tinggi serta instrumen optik canggih lainnya. Selain itu, sistem navigasi disesuaikan agar mampu menempuh perjalanan sejauh satu juta mil dari Bumi menuju Titik Lagrange 2 (L2), lokasi strategis yang juga ditempati oleh Teleskop James Webb.

Kehadiran Nancy Grace Roman diharapkan mampu menguji kembali berbagai model astrofisika modern yang ada saat ini. Meski memiliki ketajaman gambar yang setara dengan Hubble, teleskop baru ini memiliki sudut pandang yang jauh lebih luas. Sebagai perbandingan, pemetaan Galaksi Bima Sakti yang membutuhkan waktu hingga satu abad dengan Teleskop Hubble dapat diselesaikan oleh Roman hanya dalam waktu satu bulan saja.

Kendati sempat menghadapi ancaman pembatalan anggaran berulang kali dari pemerintahan Donald Trump sejak tahun 2017, proyek pengerjaan teleskop ini berhasil diselesaikan lebih cepat dari jadwal dan di bawah estimasi anggaran biaya. Pencapaian ini menjadi angin segar bagi NASA di tengah rentetan tantangan teknis dan ancaman keamanan siber yang sempat mengganggu beberapa program kedirgantaraan AS belakangan ini.