Jeon Jungkook, anggota termuda boyband fenomenal BTS, kembali menjadi sorotan publik setelah mengungkapkan bahwa ia menjalani diet OMAD atau One Meal a Day. Metode diet yang mengharuskan seseorang hanya makan satu kali dalam sehari ini dipilih sang idola K-Pop demi menjaga bentuk tubuh idealnya di tengah padatnya jadwal profesional.

Dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan pada Januari lalu, pria berusia 28 tahun itu bercerita tentang pengalamannya menjalani pola makan ketat tersebut. Alih-alih merasa tersiksa, Jungkook justru menemukan sisi psikologis yang positif dari diet ini. "Saat ini saya sedang diet dan hanya makan satu kali sehari. Jadi saya sangat menantikan waktu makan itu. Saya sering berpikir, 'Apa yang harus saya makan hari ini?' dan menunggu dengan sabar," ungkapnya kepada Rolling Stone. Ia menambahkan bahwa ketika akhirnya tiba waktu makan, ia merasakan kepuasan yang luar biasa.

Jungkook bukan satu-satunya selebritas dunia yang mengadopsi pola makan ini. Aktor legendaris Bollywood, Shah Rukh Khan, juga diketahui menerapkan metode serupa untuk mempertahankan kondisi fisiknya. Popularitas diet OMAD di kalangan figur publik semakin mendorong rasa penasaran masyarakat terhadap efektivitas dan keamanan metode ini.

Secara prinsip, diet OMAD merupakan bentuk ekstrem dari puasa intermiten. Ahli diet Elizabeth Barnes, RDN, menjelaskan bahwa metode ini mengharuskan seseorang berpuasa selama 23 jam dan mengonsumsi seluruh kebutuhan kalori harian dalam satu kali makan besar. Tujuannya adalah memanipulasi sistem metabolisme tubuh agar lebih efektif dalam membakar cadangan energi, termasuk lemak.

Terdapat beberapa aturan utama yang perlu dipatuhi dalam menjalani diet OMAD. Pertama, konsistensi menjadi kunci — pelaku diet harus menetapkan jendela waktu makan yang sama setiap harinya. Kedua, tidak ada pembatasan jenis makanan yang dikonsumsi, sehingga pelaku bebas memilih menu apa pun selama seluruh kalori terkonsentrasi dalam satu waktu makan tersebut.

Meski demikian, porsi makan tetap dikendalikan. Makanan harus disajikan di piring berukuran standar dan tidak boleh menumpuk melebihi tinggi sekitar tiga inci. Di luar jendela makan, pelaku diet hanya diperbolehkan mengonsumsi minuman bebas kalori seperti air putih atau kopi hitam tanpa gula dan susu.

Dari sisi ilmiah, penelitian mengenai efektivitas diet OMAD masih tergolong terbatas. Namun, sebuah tinjauan yang diterbitkan pada tahun 2022 di jurnal Nutrients memberikan indikasi bahwa puasa dalam jangka waktu panjang dapat mendorong proses yang disebut pengalihan metabolisme. Ketika tubuh kehabisan gula sebagai sumber energi utama, sistem metabolisme secara otomatis beralih membakar cadangan lemak, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap penurunan berat badan.

Kendati memiliki potensi manfaat, diet OMAD juga menyimpan risiko kesehatan yang tidak boleh diabaikan. Pembatasan waktu makan secara drastis dapat memicu berbagai efek samping, termasuk kelelahan, gangguan konsentrasi, serta potensi kekurangan nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh. Dalam kondisi tertentu, pola makan ekstrem seperti ini juga berisiko memicu gangguan makan atau masalah pencernaan.

Para ahli kesehatan menekankan bahwa diet OMAD sebaiknya tidak dilakukan secara sembarangan tanpa pengawasan dokter atau ahli gizi. Konsultasi medis sangat dianjurkan sebelum memulai metode ini, terutama bagi individu yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, agar diet tidak justru memberikan dampak negatif bagi tubuh.