Sentimen skeptis masyarakat terhadap pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) tampaknya belum sepenuhnya disadari oleh para pemimpin industri teknologi di Amerika Serikat. Di saat penolakan publik terhadap ekspansi kecerdasan buatan dan pembangunan pusat data (data center) terus meluas, para chief executive officer (CEO) perusahaan teknologi raksasa justru dinilai terjebak dalam narasi optimisme berlebihan yang jauh dari realitas sosial di lapangan.

Kesenjangan sudut pandang ini kian nyata berdasarkan data survei terbaru yang menunjukkan bahwa 81 persen generasi muda di AS tidak lagi memercayai para bos AI. Sementara para investor mulai menghitung potensi kerugian finansial akibat penolakan ini, para ahli strategi politik juga telah memperingatkan dampak sosial dari kehadiran infrastruktur data center di tengah pemukiman warga.

CEO Meta, Mark Zuckerberg, menjadi salah satu figur yang paling vokal mengampanyekan potensi AI melalui tulisan panjangnya yang mengkritik para skeptis. Ironisnya, janji manis Zuckerberg tentang AI yang akan membebaskan waktu kerja manusia justru bertolak belakang dengan kebijakan internal perusahaannya. CTO Meta, Andrew Bosworth, bahkan dilaporkan sempat menegur keras karyawannya yang menanyakan potensi pengurangan jam kerja berkat bantuan AI.

Kondisi serupa terlihat pada Anthropic yang dipimpin Dario Amodei. Meskipun mengusung citra skeptisisme etis dan transparansi, produk chatbot mereka, Claude, dilaporkan tetap digunakan untuk kepentingan militer. Amodei berargumen bahwa publik baru akan memaklumi risiko AI setelah teknologi ini mampu memberikan dampak revolusioner nyata seperti menyembuhkan penyakit kanker.

Meski janji tersebut terealisasi, dampak negatif AI seperti pencemaran lingkungan akibat operasional data center di kawasan marginal, ancaman kesehatan mental anak-anak, dan pemanfaatan sistem kecerdasan buatan dalam perang tetap menjadi momok yang nyata. Di tengah ketergantungan ekonomi global pada teknologi, para pelaku industri ini tampaknya akan terus melangkah maju tanpa memedulikan keresahan masyarakat.