Olahraga lari kerap diidentifikasi sebagai aktivitas fisik paling murah dan praktis karena secara teori hanya membutuhkan modal sepasang sepatu. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, persepsi tersebut bergeser drastis. Lari kini telah bertransformasi menjadi gaya hidup premium yang menuntut pengeluaran finansial tidak sedikit, mulai dari biaya pendaftaran ajang (race) yang terus melonjak hingga perlengkapan penunjang yang kian modis.
Bagi para pehobi lari, kenaikan tarif pendaftaran ajang lari tahunan sangat terasa. Pada tahun 2022, tiket untuk kategori lari santai 5 kilometer (5K) atau 10 kilometer (10K) masih bisa ditemukan pada kisaran harga Rp75 ribu hingga Rp150 ribu. Saat ini, tarif untuk kategori serupa telah menembus angka Rp500 ribu hingga Rp800 ribu, sementara kategori Full Marathon (FM) kini dibanderol di atas Rp1 juta. Kondisi ini membuat sejumlah pelari mulai selektif dalam memilih ajang yang dinilai sepadan dengan biaya yang dikeluarkan.
Pembengkakan biaya akan semakin nyata apabila pelari memutuskan untuk berpartisipasi dalam ajang di luar kota atau luar negeri. Selain biaya registrasi, mereka harus mengalokasikan anggaran untuk transportasi dan akomodasi. Ajang lari luar kota seperti di Bandung atau Bali rata-rata membutuhkan biaya antara Rp2 juta hingga Rp5 juta. Sementara itu, untuk berburu medali di ajang internasional seperti di Jepang atau Australia, estimasi pengeluaran total bisa menyentuh angka Rp30 juta hingga Rp50 juta per acara.
Di luar kebutuhan logistik, aspek penampilan kini menjadi pos pengeluaran yang tidak kalah besar. Kehadiran komunitas lari memperkuat gengsi penampilan di garis start, di mana pemilihan pakaian, sepatu khusus, hingga jam tangan pintar premium menjadi perhatian utama. Fenomena ini kerap kali mengubah jalur lari menjadi ajang pamer busana, dengan nilai perlengkapan satu pelari yang tidak jarang setara dengan harga satu unit sepeda motor.
Meskipun biaya yang dibutuhkan tergolong besar, antusiasme masyarakat tidak surut, yang kemudian membuka peluang bisnis raksasa. Di wilayah Jabodetabek saja, tercatat ada lebih dari 170 agenda lari yang terjadwal. Tingginya minat ini membuat potensi perputaran uang dari satu ajang lari berskala besar yang diikuti puluhan ribu peserta diperkirakan mampu menghasilkan pendapatan tiket hingga puluhan miliar rupiah.
Efek domino dari industri olahraga ini juga dirasakan oleh sektor riil. Sebagai contoh, ajang maraton internasional di Jakarta diproyeksikan mampu menyumbang perputaran ekonomi daerah hingga lebih dari Rp200 miliar. Angka tersebut membuktikan bahwa tren lari bukan lagi sekadar gerakan hidup sehat, melainkan motor penggerak ekonomi kreatif baru yang sangat menjanjikan.