Kondisi tata kelola olahraga nasional yang dinilai belum optimal mendorong Sadik Algadri, mantan pengurus Program Indonesia Emas (Prima), meluncurkan buku bertajuk Membangun Otot di Negeri Kertas. Karya ini lahir dari keresahan mendalam terhadap sistem keolahragaan Indonesia yang dinilai masih kerap mengabaikan prinsip dasar tata kelola dan etika keolahragaan internasional.
Salah satu poin krusial yang memantik penulisan buku tersebut adalah pemunculan regulasi yang dinilai berpotensi mencederai independensi olahraga prestasi. Sadik mengingatkan pentingnya mematuhi aturan main Olympic Charter (Piagam Olimpiade), pedoman tertinggi yang melarang keras intervensi politik pemerintah dalam urusan keolahragaan. Menurutnya, pelanggaran terhadap prinsip dasar ini berisiko menghadirkan sanksi internasional yang merugikan posisi Indonesia di kancah global.
Proses penyusunan buku yang memakan waktu sekitar lima hingga enam bulan ini tidak didasari oleh kekecewaan emosional semata, melainkan lewat diskusi metodologis bersama para akademisi dan jurnalis olahraga senior, Suryansah. Sebelum memilih membukukan pemikirannya, Sadik sempat berupaya menyuarakan gagasan kritis tersebut melalui media audio-visual, namun akhirnya memilih buku sebagai medium yang lebih substansial dan berdampak panjang.
Dalam analisisnya, Sadik menyoroti pergeseran persepsi terhadap olahraga di tanah air yang masih sering ditempatkan sebatas panggung hiburan, bukan sebagai instrumen pembangunan karakter dan harkat martabat bangsa. Ia membandingkan bagaimana negara-negara seperti Jepang memanfaatkan momentum Olimpiade 1964 untuk menunjukkan kebangkitan peradaban mereka pascaperang, sebuah dorongan transformasi yang seharusnya juga dapat dipetik Indonesia setelah sukses menggelar Asian Games 2018.
Sadik juga menggarisbawahi realitas posisi Indonesia yang mulai tertinggal dari sejumlah negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia dalam beberapa dekade terakhir. Melalui publikasi ini, ia mendesak para pemangku kebijakan untuk memiliki keberanian moral dalam mengakui kelemahan sistemik, merumuskan evaluasi yang jujur, serta mengambil langkah berani untuk mereformasi ekosistem olahraga nasional.