PT Fortune Indonesia Tbk. (FORU) secara resmi bersiap melakukan diversifikasi bisnis ke sektor pertambangan batu bara kokas (coking coal). Langkah strategis ini direalisasikan melalui akuisisi PT Borneo Prima (BP) dengan mekanisme inbreng dalam aksi korporasi penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue bernilai fantastis, mencapai Rp27,1 triliun.

Manajemen FORU menjelaskan bahwa PT Borneo Prima merupakan entitas tambang batu bara metalurgi yang beroperasi di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. Memiliki wilayah konsesi seluas 15.000 hektare, cadangan terbukti (proven reserve) emiten ini tercatat sebesar 42,4 juta ton dengan cadangan terkira (probable reserve) mencapai 45,3 juta ton, serta memiliki kualitas kalori tinggi sebesar 7.850 kcal/kg (CV adb).

Transformasi ini dinilai sangat prospektif lantaran karakteristik batu bara kokas berbeda dengan batu bara termal yang mulai mengalami pelambatan permintaan global. Sebagai bahan baku utama industri baja, permintaan komoditas ini diproyeksikan terus tumbuh pesat seiring dengan ekspansi sektor baja di kawasan Asia Tenggara dan India. Berdasarkan data World Steel Association, konsumsi baja global diperkirakan meningkat dari 1,724 miliar ton pada tahun 2026 menjadi 1,762 miliar ton pada 2027 mendatang.

Di pasar domestik, potensi pasar juga masih sangat terbuka lebar. Asosiasi Industri Kokas Indonesia (AICI) mencatat produksi kokas dalam negeri baru berkisar 3 juta ton per tahun, atau hanya mampu memenuhi sekitar 20 persen dari kebutuhan nasional. Kesenjangan ini membuat produsen lokal memiliki peluang besar untuk menekan ketergantungan impor, terlebih dengan proyeksi harga batu bara kokas yang diperkirakan bertahan di atas US$200 per metrik ton selama lima tahun ke depan.

Masuknya Borneo Prima dipastikan akan mengubah peta keuangan FORU secara drastis. Berdasarkan laporan proforma, total aset emiten ini diproyeksikan meroket tajam dari Rp33,55 miliar menjadi Rp8,71 triliun setelah konsolidasi. Di saat yang sama, ekuitas perseroan bakal terkerek menjadi Rp7,15 triliun dari posisi semula yang hanya sebesar Rp19,23 miliar.

Dari sisi kinerja operasional, pendapatan usaha FORU diperkirakan melesat hingga 35 kali lipat menjadi Rp195,66 miliar, dari sebelumnya hanya Rp5,41 miliar. Lonjakan ini juga diharapkan mampu membalikkan kinerja keuangan perseroan dari rugi bersih sebesar Rp4,15 miliar menjadi laba bersih operasional senilai Rp11,94 miliar pasca-akuisisi.

Adapun dalam skema rights issue ini, FORU berencana menerbitkan hingga 215,09 ibuk saham baru dengan harga pelaksanaan Rp126 per saham. Mayoritas dana hasil aksi korporasi tersebut, yakni sekitar 76,81 persen atau Rp20,82 triliun, dialokasikan langsung untuk mengakuisisi saham Borneo Prima, sedangkan sisanya akan disalurkan sebagai modal kerja operasional tambang.