Meta Platforms dikabarkan tengah bersiap memperluas lini bisnisnya ke sektor komputasi awan (cloud computing) dengan menyewakan kapasitas komputasi kecerdasan buatan (AI) miliknya. Langkah strategis ini dinilai berpotensi menjawab keraguan pasar terkait tingginya belanja modal dan margin operasional raksasa teknologi tersebut. Berdasarkan laporan Bloomberg, kejelasan mengenai portofolio bisnis baru ini serta daftar calon pelanggannya diperkirakan akan diungkap pada akhir Juli mendatang.
Ekspansi ini didorong oleh komitmen investasi infrastruktur yang masif, termasuk proyek pusat data AI senilai 50 miliar dolar AS di Louisiana yang dirancang untuk mencapai kapasitas hingga 5 gigawatt. Di sisi lain, rencana penjualan kapasitas komputasi AI yang berlebih memicu diskusi di kalangan pelaku industri mengenai efisiensi pemanfaatan sumber daya komputasi yang saat ini sedang naik daun. Morgan Stanley juga mencatat bahwa Meta bersama raksasa teknologi lainnya terus meningkatkan anggaran belanja infrastruktur AI meskipun menghadapi tantangan rantai pasok global.
Meskipun skeptisisme sempat membayangi kemampuan Meta untuk menghasilkan profit di luar ekosistem media sosial intinya, analis melihat potensi besar dari unit bisnis baru ini. Ditopang oleh basis pengguna harian yang mencapai 3,56 miliar di berbagai aplikasinya, valuasi saham Meta dinilai masih atraktif dengan rasio harga terhadap laba (P/E ratio) yang relatif lebih rendah dibanding kompetitor utamanya. Hal ini menjadikan Meta tetap menjadi salah satu pilihan utama bagi investor yang mencari katalis pertumbuhan jangka panjang di sektor teknologi.