Situasi keamanan di Selat Hormuz berada pada titik kritis menyusul aksi saling serang antara militer Amerika Serikat dan Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi telah menghantam dua kapal tanker milik Uni Emirat Arab (UEA) di jalur pelayaran strategis tersebut. Insiden ini terjadi hampir bersamaan dengan serangan udara beruntun yang diluncurkan AS ke wilayah Iran guna menekan kekuatan militer Teheran.

Otoritas UEA mengecam keras serangan rudal jelajah tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum maritim internasional. Serangan ini merusak kapal tanker minyak mentah Mombasa B dan kapal gas alam cair (LNG) Al Bahiya, serta merenggut nyawa seorang kru berkewarganegaraan India dan melukai delapan kru lainnya. Pemerintah UEA menegaskan pihaknya memiliki hak penuh untuk mengambil langkah balasan yang diperlukan demi melindungi wilayah kedaulatan mereka.

Di sisi lain, pihak IRGC berdalih bahwa serangan terpaksa dilakukan karena kedua kapal tanker dituduh mematikan sistem navigasi otomatis dan nekat menerobos zona ranjau laut. Investigasi pelacakan satelit menunjukkan bahwa kedua kapal memang tidak memancarkan koordinat publik mereka selama lebih dari sepekan sebelum insiden. Mombasa B bahkan terdeteksi sempat memindahkan sekitar 1,9 juta barel minyak ke kapal lain di lepas pantai Fujairah secara tertutup.

Menanggapi ketegangan yang terus bereskalasi, Presiden AS Donald Trump mengumumkan pemberlakuan kembali blokade laut terhadap seluruh pelabuhan Iran melalui Komando Pusat AS (CENTCOM). Selain itu, Washington berencana memungut biaya keamanan sebesar 20 persen bagi setiap kargo komersial yang melintasi Selat Hormuz. Kebijakan pungutan sepihak ini langsung menuai kritik dari Organisasi Maritim Internasional (IMO) yang menilai aturan tersebut tidak memiliki landasan hukum kuat.

Konfrontasi bersenjata di wilayah Teluk ini langsung memicu kekhawatiran global terhadap pasokan energi global. Di pasar komoditas, harga minyak mentah jenis Brent merangkak naik hingga 1,9 persen menjadi US$84,87 per barel, sementara minyak mentah AS ikut terkerek naik 2 persen ke level US$79,75 per barel. Upaya diplomatik untuk meredakan konflik kini semakin terhambat karena kedua belah pihak masih saling melancarkan serangan balasan ke pangkalan militer masing-masing di kawasan Timur Tengah.