Sebuah kisah perjuangan luar biasa datang dari perairan Selayar, Sulawesi Selatan. Ardita (17), seorang siswi SMKN 3 Jurusan Pelayaran dan Kelautan Benteng, berhasil lolos dari maut setelah terombang-ambing di Laut Flores selama empat hari empat malam pascatenggelamnya Kapal Motor (KM) Nurul Salsa.

Selama empat hari tanpa asupan makanan dan minuman, Ardita berpegangan erat pada sebilah papan gabus berukuran 1,5 meter bersama penumpang lainnya. Sengatan matahari yang membakar kulit hingga mengelupas pada siang hari, serta dinginnya angin laut di malam hari, menjadi ujian fisik dan mental yang luar biasa bagi para korban di tengah ombak setinggi tiga meter.

Kondisi ekstrem tersebut merenggut nyawa beberapa penumpang. Hasbi (41) dilaporkan hilang terbawa arus setelah kehilangan tenaga, disusul istrinya, Malida (31), yang mengembuskan napas terakhir karena dehidrasi dan trauma psikologis sambil mendekap putrinya yang berusia tujuh tahun, Diska Yanti.

Harapan muncul ketika fisik mereka sudah sangat melemah dan suara habis akibat terus berteriak meminta pertolongan kepada kapal nelayan yang melintas di kejauhan. Di tengah kepasrahan, Ardita teringat ada sebuah cermin kosmetik kecil di dalam tasnya. Ia kemudian menggunakan cermin tersebut untuk memantulkan cahaya matahari menjelang senja ke arah kapal nelayan terdekat.

Metode darurat tersebut berhasil menarik perhatian nelayan, hingga akhirnya lima korban selamat dievakuasi di sekitar Pulau Matallang pada Sabtu (18/7/2026) sore. KM Nurul Salsa sendiri dilaporkan tenggelam pada Rabu (15/7/2026) sekitar 43 mil laut dari Pelabuhan Benteng. Dari total 78 penumpang, 59 orang berhasil dievakuasi dengan selamat, 3 meninggal dunia, dan 16 lainnya masih dalam pencarian.