Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan pernyataan tegas terkait rencana operasi militer terhadap Iran yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (8/7/2026) malam waktu setempat. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Trump di sela-sela agenda Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO yang tengah digelar di Turkiye.
Eskalasi konflik ini dipicu oleh aksi saling serang di wilayah Teluk, di mana Iran mengeklaim telah melakukan serangan terhadap sejumlah sasaran militer AS yang berlokasi di Bahrain dan Kuwait. Sebagai respons, Washington menegaskan akan memberlakukan kembali sanksi minyak terhadap Teheran, yang merupakan konsekuensi atas insiden penyerangan kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz.
Berbagai langkah militer dan ekonomi yang diambil AS ini menandai berakhirnya Nota Kesepahaman (MoU) antara kedua negara. Meski Trump secara eksplisit menyatakan bahwa kesepakatan tersebut telah berakhir, ia memberi ruang kecil bagi para diplomatnya untuk tetap membuka jalur komunikasi jika diperlukan.
Sementara itu, Israel terpantau meningkatkan kewaspadaan di tengah ketidakpastian situasi regional. Tel Aviv menyatakan tidak terkejut dengan eskalasi ini, mengingat adanya keraguan kuat mengenai kepatuhan Iran terhadap tuntutan yang diajukan oleh pihak Amerika Serikat.
Menyikapi perkembangan tersebut, militer Israel melalui Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah menyatakan kesiapan penuh dalam menghadapi segala kemungkinan skenario. Otoritas keamanan Israel menegaskan bahwa pihaknya berada dalam posisi siaga tinggi, baik untuk kebutuhan ofensif maupun defensif, guna mengantisipasi dampak dari konflik terbuka antara AS dan Iran.