Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, memberikan dukungan penuh terhadap langkah ofensif yang dilakukan militer Amerika Serikat terhadap sejumlah target milik Iran. Keputusan Washington untuk melancarkan serangan dan mencabut izin ekspor minyak Teheran dipandang sebagai respons proporsional menyusul insiden penyerangan tiga kapal tanker komersial di kawasan vital Selat Hormuz.

Pernyataan tersebut disampaikan Rutte menjelang pertemuan puncak NATO di Ankara, Turki. Ia menegaskan bahwa aksi tegas Amerika Serikat menjadi krusial di tengah kondisi gencatan senjata yang kian rapuh. Menurutnya, pelanggaran yang diduga dilakukan oleh pihak Iran terhadap jalur pelayaran internasional tidak dapat dibiarkan begitu saja oleh komunitas global.

Di sisi lain, otoritas Iran melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baghaei, membantah keterlibatan negaranya dalam insiden tersebut. Meski demikian, pihak Teheran melontarkan peringatan keras bahwa setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz tanpa koordinasi dengan otoritas mereka akan menghadapi risiko keamanan yang tinggi, seraya mengeklaim insiden terjadi akibat pengabaian peringatan oleh kapal-kapal asing.

Eskalasi konflik semakin nyata setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi serangan terhadap lebih dari 80 target strategis, termasuk fasilitas pertahanan udara dan aset maritim Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Sebagai balasan, IRGC mengklaim telah meluncurkan operasi gabungan rudal dan drone yang menyasar pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait, serta mengeklaim keberhasilan menembak jatuh sebuah drone pengintai MQ-9 milik Washington.

Dalam pertemuan tersebut, Rutte juga menyoroti dinamika internal aliansi transatlantik. Ia menekankan pentingnya komitmen negara-negara Eropa dan Kanada untuk meningkatkan alokasi anggaran pertahanan mereka agar setara dengan kontribusi Amerika Serikat. Rutte memandang kemajuan dalam pemenuhan target pengeluaran pertahanan ini sebagai bentuk penguatan posisi NATO di tengah tantangan geopolitik global saat ini.