Situasi geopolitik di kawasan Teluk kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi menyatakan berakhirnya kesepakatan gencatan senjata dengan Iran. Pernyataan tersebut disampaikan di sela-sela KTT NATO di Ankara, di mana Trump melontarkan kritik keras terhadap kepemimpinan Iran dengan menyebut mereka tidak rasional dan berbahaya bagi stabilitas global.
Konflik fisik pun tak terhindarkan. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi telah melancarkan serangkaian serangan udara ke titik-titik strategis di Iran sebagai respons atas dugaan sabotase terhadap kapal komersial. Dampaknya, ledakan dilaporkan mengguncang sejumlah kota pelabuhan, termasuk Bandar Abbas dan Chabahar, yang menyebabkan gangguan aliran listrik di wilayah tersebut.
Menanggapi agresivitas Washington, otoritas militer Iran tidak menunjukkan tanda-tanda gentar. Laksamana Muda Habibollah Sayyari, pejabat tinggi angkatan bersenjata Iran, mengeluarkan peringatan tegas bahwa setiap upaya pendaratan pasukan asing di wilayah pesisir Iran akan diubah menjadi "neraka dunia" bagi para agresor. Iran bahkan memperingatkan negara-negara tetangga agar tidak memberikan akses dukungan kepada militer AS, karena akan dianggap sebagai sasaran sah dalam konflik tersebut.
Di sisi diplomatik, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memilih menanggapi retorika kasar Trump dengan sikap tenang namun lugas. Ia menyatakan bahwa pemerintahnya tidak akan membalas hinaan dengan kata-kata serupa, melainkan akan merespons melalui tindakan nyata di lapangan sebagai bukti keteguhan bangsa Iran dalam mempertahankan kedaulatan negara.