Fenomena perpindahan atau "eksodus" para pelaku usaha dari platform lokapasar (marketplace) raksasa seperti Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop kini tengah menjadi perhatian dalam ekosistem digital Indonesia. Banyak pemilik merek (brand) lokal mulai mengeluhkan beban operasional yang kian berat akibat kebijakan sepihak dari aplikator. Kebijakan ini mencakup kenaikan komisi platform, potongan biaya admin, hingga kewajiban mengikuti program promosi tertentu yang menggerus margin keuntungan penjual.
Sejak pertengahan tahun lalu, potongan komisi di berbagai platform e-commerce memang menunjukkan tren kenaikan yang signifikan. Shopee menetapkan potongan berkisar 10 hingga 18 persen, Tokopedia berkisar 5 hingga 15,8 persen, sementara TikTok Shop bahkan dapat menyentuh angka 20 hingga 35 persen apabila penjual memanfaatkan program afiliasi secara agresif. Selain persoalan biaya, para pelapak juga kerap dihadapkan pada ketidakpastian aturan operasional, seperti pemblokiran akun secara tiba-tiba dan perubahan algoritma penayangan produk tanpa pemberitahuan yang memadai.
Situasi pelik ini mendorong para pelaku usaha untuk memikirkan kembali ketergantungan mereka pada pihak ketiga. Alih-alih menjadikan lokapasar sebagai pusat dari seluruh aktivitas bisnis, banyak brand kini beralih ke strategi penjualan mandiri melalui situs web resmi, media sosial, maupun aplikasi pesan instan. Langkah ini dinilai memberikan kontrol penuh kepada pemilik merek atas data pelanggan, harga produk, dan hubungan jangka panjang dengan konsumen.
Para pengamat ekonomi digital menilai fenomena ini sebagai tanda bahwa pasar e-commerce di Indonesia tengah memasuki fase matang (mature). Setelah melewati fase perkenalan dan fase ketergantungan tinggi, industri kini berada di titik di mana merek-merek lokal mulai berani membangun infrastruktur digitalnya sendiri. Sejumlah brand kosmetik dan mode ternama di tanah air bahkan terbukti sukses merintis ekosistem penjualan serta program afiliasi mandiri tanpa sepenuhnya bergantung pada platform besar.
Kendati demikian, meninggalkan lokapasar secara total dinilai bukanlah langkah yang bijak mengingat jangkauan pasarnya yang sangat luas. Solusi terbaik yang bisa diambil oleh para pelaku usaha adalah menerapkan strategi omnichannel. Dalam skema ini, marketplace difungsikan sebagai gerbang untuk menjaring pelanggan baru, sedangkan situs web mandiri dan layanan pesan instan dioptimalkan untuk menjaga loyalitas serta interaksi berkelanjutan dengan pelanggan setia.
Pada akhirnya, keharmonisan ekosistem digital nasional membutuhkan hubungan yang seimbang antara penyedia platform dan mitra penjual. Pihak aplikator diharapkan dapat meningkatkan transparansi struktur biaya serta memberikan kepastian hukum yang lebih adil bagi para seller. Kolaborasi yang sehat dan saling menguntungkan ini menjadi kunci utama untuk menjaga pertumbuhan ekonomi digital yang berkelanjutan di Indonesia.