Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) mengakselerasi pengembangan ekosistem kewirausahaan nasional dengan target ambisius: melahirkan 10 juta wirausaha baru pada tahun 2029. Strategi utama yang ditempuh adalah memperkuat kapasitas lembaga inkubator usaha sekaligus mengintegrasikan layanan pendampingan ke dalam platform digital SAPA UMKM.

Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, Riza Damanik, menegaskan bahwa penguatan lembaga inkubator menjadi instrumen krusial untuk meningkatkan kualitas wirausaha nasional. Hal ini juga dinilai vital dalam mempersiapkan Indonesia menghadapi bonus demografi menuju visi Indonesia Emas 2045. "Pendampingan melalui lembaga inkubator kami integrasikan dengan program Bursa Wirausaha Unggulan dan Pro-Kesra Produktif agar target 10 juta penduduk berwirausaha dapat tercapai secara lebih efektif," ujar Riza dalam keterangan resminya.

Riza Damanik menjelaskan bahwa berbagai studi menunjukkan pelaku usaha yang mendapat pendampingan melalui program inkubasi memiliki peluang keberhasilan lebih tinggi dibanding yang merintis usaha mandiri. Oleh karena itu, pemerintah terus melakukan penguatan kelembagaan, termasuk peningkatan kualitas layanan dan kompetensi para pendamping kewirausahaan. "Melalui lembaga inkubator, calon wirausaha memperoleh pendampingan, akses pembiayaan, pemasaran, sertifikasi, dan standardisasi yang dibutuhkan untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan," tambahnya.

Untuk memastikan kualitas pembinaan semakin optimal, Kementerian UMKM juga menerapkan standar pelatihan, sistem evaluasi, serta pemeringkatan lembaga inkubator. Langkah ini bertujuan memperluas peluang UMKM untuk berkembang dan naik kelas. Di sisi lain, program pengembangan kewirausahaan juga diperkuat melalui Bursa Wirausaha Unggulan sebagai ekosistem pembinaan terpadu yang mencakup pelatihan, penguatan kapasitas usaha, hingga perluasan akses pembiayaan dan pemasaran.

Program Kesejahteraan Produktif (Pro-Kesra Produktif) diarahkan untuk mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya kelompok pada desil 5 hingga 10, melalui pendampingan berkelanjutan mulai tahap pra-produksi hingga pasca-produksi. Riza menilai keberadaan inkubator, termasuk di lingkungan perguruan tinggi, memiliki posisi strategis dalam melahirkan inovasi berbasis teknologi dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam secara berkelanjutan.

Dukungan terhadap penguatan inkubator juga datang dari kalangan akademisi. Head of BINUS Incubator, Aloysius Bernanda Gunawan, menyatakan bahwa pendampingan menyeluruh menjadi faktor krusial bagi calon pengusaha maupun startup sejak tahap perumusan ide hingga penyempurnaan produk. "Generasi muda memiliki kemampuan belajar yang cepat dan kaya akan ide. Jika didukung dengan pendampingan yang tepat, mereka tidak hanya mampu membangun usaha, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru," ujarnya.

Sementara itu, Founder Kasisolusi, Deryansha Azhary, menekankan pentingnya pelatihan kewirausahaan yang relevan dengan kebutuhan bisnis saat ini, termasuk penguatan kemampuan komunikasi, literasi, serta personal branding melalui platform digital. Ia menyambut positif pengembangan platform SAPA UMKM sebagai sarana pendampingan yang dapat menjangkau pelaku usaha di berbagai daerah. "Pendampingan usaha yang merata melalui SAPA UMKM memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh pelaku UMKM untuk berkembang," kata Dery.