Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengakselerasi pengembangan teknologi terapi kanker mutakhir berbasis neutron, yakni Accelerator-Based Boron Neutron Capture Therapy (AB-BNCT). Inovasi ini dirancang untuk memperkuat kemandirian sektor kesehatan nasional sekaligus memberikan opsi pengobatan yang lebih presisi dan aman bagi penderita kanker di tanah air.

Komitmen tersebut ditegaskan oleh Wakil Kepala BRIN, Prof. Amarulla Octavian, dalam forum ilmiah internasional yang diselenggarakan oleh FMIPA Universitas Udayana di Denpasar, Bali, pada Selasa (28/7/2026). Forum tersebut menjadi wadah strategis yang mempertemukan akademisi, praktisi medis, pelaku industri, dan mitra global untuk menyelaraskan langkah dalam pengembangan teknologi partikel dan ion berat demi kebutuhan medis.

Dalam pemaparannya, Amarulla menyoroti kompleksitas penanganan kanker akibat sifat sel tumor yang heterogen dan adaptif. Oleh karena itu, arah penanganan kanker masa depan harus bergeser pada pengobatan berbasis presisi yang dipandu oleh biomarker spesifik. Teknologi AB-BNCT menjawab tantangan ini dengan menyuntikkan senyawa boron ke sel target, yang kemudian diaktivasi menggunakan pancaran neutron untuk menghancurkan sel kanker tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya.

Hingga awal tahun 2026, BRIN setidaknya telah mengelola 30 proyek riset kanker yang mencakup berbagai aspek seperti nanoteknologi, radiofarmaka, hingga alat diagnostik terintegrasi. Untuk mempercepat implementasi klinisnya, BRIN telah menyusun peta jalan pengembangan teknologi AB-BNCT hingga tahun 2029, yang mencakup regulasi perizinan, kesiapan infrastruktur, hingga operasional pelayanan pasien secara luas.

Keberhasilan program strategis ini ditopang oleh fasilitas kedokteran nuklir mumpuni milik BRIN yang telah bersinergi dengan Rumah Sakit Kanker Nasional (RSKN) Dharmais. Guna merealisasikan hilirisasi riset ini, BRIN terus memperkuat kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Universitas Udayana, JAEA, RSKN Dharmais, serta International Hospital Sanur Bali.