Upaya Cristiano Ronaldo untuk melengkapi lemari trofinya dengan gelar juara dunia kembali menemui jalan buntu. Setelah berpartisipasi dalam enam edisi Piala Dunia sejak 2006, sang megabintang harus menelan kekecewaan mendalam menyusul tersingkirnya Portugal di babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah takluk dari Spanyol.
Kegagalan ini memicu perdebatan sengit di dunia sepak bola. Mantan gelandang tim nasional Prancis, Youri Djorkaeff, melontarkan kritik pedas terhadap pola permainan Selecao das Quinas. Juara Piala Dunia 1998 tersebut menuding bahwa kegagalan tersebut bukan semata-mata karena performa individu Ronaldo, melainkan adanya ketidakharmonisan taktis di atas lapangan yang merugikan sang kapten.
Menurut Djorkaeff, struktur permainan Portugal tidak dirancang untuk memaksimalkan potensi Ronaldo. Ia secara eksplisit menyebut adanya indikasi boikot, di mana rekan-rekan setimnya dinilai tidak memberikan suplai bola yang dibutuhkan serta menempatkan pemain berusia 41 tahun tersebut di posisi yang tidak ideal. Baginya, keputusan memanggil Ronaldo seharusnya dibarengi dengan komitmen tim untuk bermain demi mendukung perannya, namun hal itu justru absen sepanjang turnamen.
Sepanjang partisipasinya di Amerika Utara, kontribusi Ronaldo memang terlihat terbatas. Ia mencatatkan total tiga gol, masing-masing dua ke gawang Uzbekistan dan satu ke gawang Kroasia. Meski sempat mencatatkan sejarah personal melalui gol di fase gugur, performa keseluruhan Ronaldo di edisi ini tampak menjadi pengingat pahit atas hubungan yang renggang antara strategi tim dan sang mega bintang dalam upayanya mengejar trofi prestisius tersebut.