Jakarta — Aktivitas buang gas atau kentut merupakan proses biologis alami yang dialami setiap orang. Namun, frekuensinya ternyata sangat dipengaruhi oleh pola makan dan gaya hidup masing-masing individu. Orang dewasa yang sehat umumnya melepaskan gas antara 10 hingga 20 kali dalam sehari, dengan total volume gas harian berkisar antara 500 hingga 1.500 mililiter.
Menurut ahli gizi Amanda Sauceda, M.S., RD, faktor makanan memiliki dampak paling signifikan terhadap produksi gas dalam tubuh. Ia menjelaskan bahwa serat, yakni bagian karbohidrat yang tidak dapat dicerna tubuh, menjadi pemicu utama terbentuknya gas di usus. Serat bergerak melalui saluran pencernaan tanpa dipecah hingga mencapai usus besar, di mana bakteri usus memfermentasinya dan menghasilkan gas sebagai produk sampingan.
Menariknya, peningkatan frekuensi kentut akibat konsumsi serat yang lebih tinggi umumnya bersifat sementara. Seiring waktu, tubuh akan beradaptasi dengan asupan serat yang lebih banyak. Oleh karena itu, Sauceda menekankan pentingnya meningkatkan konsumsi serat secara bertahap agar sistem pencernaan memiliki waktu untuk menyesuaikan diri.
Selain pola makan, sejumlah kebiasaan tertentu juga berkontribusi terhadap produksi gas berlebih. Ahli Gastroenterologi dari Atlantic Coast Gastroenterology Associates, Sandhya Shukla, MD, mengungkapkan bahwa makan terlalu cepat, mengunyah permen karet, mengonsumsi minuman berkarbonasi, serta makan dengan mulut terbuka merupakan perilaku yang memicu masuknya udara berlebih ke saluran pencernaan. Udara yang tertelan ini kemudian menumpuk dan menyebabkan kembung serta peningkatan frekuensi buang gas.
Di luar faktor gaya hidup, kondisi medis tertentu juga dapat memperparah produksi gas usus. Shukla menyebutkan beberapa di antaranya, yakni infeksi SIBO (Small Intestinal Bacterial Overgrowth), intoleransi laktosa, penyakit celiac, gangguan motilitas usus yang kerap dijumpai pada penderita diabetes, serta sembelit yang menghambat penyerapan gas secara normal. Kondisi-kondisi ini memengaruhi proses pencernaan dan pergerakan makanan dalam usus, sehingga berdampak langsung pada intensitas kentut.
Lantas, kapan frekuensi kentut dianggap berlebihan? Merujuk pada sebuah studi, kentut dikategorikan berlebihan apabila terjadi lebih dari 20 kali per hari. Sauceda sendiri menyatakan bahwa frekuensi lebih dari 25 kali sehari patut diwaspadai sebagai kondisi yang tidak normal.
Meski demikian, para ahli menekankan bahwa menghitung jumlah kentut sepanjang hari bukanlah hal yang perlu dilakukan oleh kebanyakan orang. Hal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah perubahan karakteristik gas yang dikeluarkan, seperti bau yang tidak biasa, serta gejala penyerta lainnya seperti nyeri perut atau kembung yang berkepanjangan. Apabila gejala-gejala tersebut muncul, konsultasi dengan tenaga medis profesional sangat dianjurkan untuk mengidentifikasi kemungkinan gangguan pencernaan yang mendasarinya.