Raksasa ritel fesyen cepat asal China, Shein, memutuskan untuk memangkas skala operasionalnya di Vietnam dan menarik kembali fokus produksi ke negara asalnya. Langkah ini diambil setelah ekspansi ke Vietnam dinilai kurang efisien dan tidak mampu menandingi kecepatan serta fleksibilitas rantai pasok di China.
Sebagai bagian dari rasionalisasi ini, Shein dilaporkan telah mengurangi penggunaan fasilitas gudang seluas 15 hektare di dekat Kota Ho Chi Minh menjadi hanya sekitar 6 hektare. Pengurangan kapasitas penyimpanan ini juga diiringi dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang telah berlangsung sejak April lalu, menandakan penurunan aktivitas logistik yang signifikan di wilayah tersebut.
Sebelumnya, langkah diversifikasi ke Vietnam dilakukan untuk menghindari tekanan tarif dagang Amerika Serikat (AS) terhadap produk-produk asal China, termasuk pemangkasan fasilitas bebas bea masuk (de minimis) untuk paket bernilai di bawah US$800. Namun, keunggulan tarif di Vietnam ternyata tidak sebesar yang diharapkan, ditambah lagi adanya kebijakan baru AS terkait pengawasan ketat terhadap rantai pasok yang diduga menggunakan tenaga kerja paksa di kedua negara.
Selain kendala tarif, perbedaan budaya kerja dan efisiensi tenaga kerja menjadi faktor krusial. Pemasok Shein mengungkapkan bahwa pekerja di Vietnam lebih sulit beradaptasi dengan jam kerja panjang dan upah rendah. Sebaliknya, ekosistem manufaktur di China sangat fleksibel, mampu memproduksi jutaan model pakaian dalam jumlah kecil dengan margin keuntungan yang sangat tipis dalam hitungan hari.
Menyikapi kendala ini, Shein memilih memperkuat posisinya di China dengan berkomitmen menginvestasikan lebih dari 10 miliar yuan (sekitar Rp22 triliun) untuk membangun sistem rantai pasok pintar di Provinsi Guangdong. Keputusan ini menegaskan bahwa kecepatan dan efisiensi produksi massal skala kecil tetap menjadi kunci daya saing utama Shein di pasar global.
Kendati kembali berinvestasi di China, Shein kini menghadapi tantangan baru dari para pemasoknya sendiri yang mulai jenuh dengan margin keuntungan yang terlampau tipis. Sebagian produsen mulai beralih ke platform e-commerce kompetitor seperti Temu atau Amazon yang menawarkan volume pesanan lebih besar serta proses produksi yang dinilai lebih praktis.