Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan kini memicu ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Penurunan kualitas udara akibat kabut asap dilaporkan mulai meningkatkan risiko paparan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara signifikan di berbagai daerah terdampak.

Menanggapi situasi tersebut, Anggota Komisi IX DPR RI, dr. Maharani, meminta Kementerian Kesehatan bersama pemerintah daerah untuk memperkuat langkah mitigasi. Berdasarkan data Kemenkes hingga akhir Agustus 2026, karhutla telah meluas ke 87 kabupaten dan kota di tujuh provinsi, meliputi Jambi, Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, hingga Kalimantan Timur.

Paparan kabut asap ini diperkirakan berdampak langsung pada sekitar tiga juta warga. Guna menangani krisis kesehatan di lapangan, otoritas kesehatan terkait telah menyiagakan sedikitnya 314 tenaga medis serta mulai mendistribusikan bantuan logistik kesehatan ke wilayah-wilayah yang paling terpapar.

Lonjakan kasus gangguan pernapasan kini mulai terlihat nyata di lapangan. Di Provinsi Kalimantan Tengah misalnya, jumlah penderita ISPA melonjak tajam hingga 78,1 persen dalam kurun waktu sepekan, dari sebelumnya 402 kasus menjadi 716 kasus. Angka ini menjadi alarm penting bagi kesiapan fasilitas medis setempat untuk mengantisipasi potensi lonjakan pasien yang lebih besar.

Kondisi memprihatinkan juga terjadi di Provinsi Riau. Di Kota Pekanbaru, konsentrasi partikulat PM2,5 sempat menembus angka 170 mikrogram per meter kubik, yang menempatkan kualitas udara setempat dalam kategori sangat tidak sehat dengan jarak pandang yang menyusut hingga 2,5 kilometer saja.

Merespons bahaya kabut asap, Pemerintah Kota Pekanbaru mengambil kebijakan taktis dengan menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi para pelajar. Di sisi lain, Dinas Kesehatan Provinsi Riau juga mulai menyalurkan bantuan 18 ribu masker ke Kabupaten Pelalawan sebagai salah satu wilayah terdampak karhutla paling parah.

Lebih lanjut, dr. Maharani mengingatkan agar proteksi diprioritaskan bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga dengan riwayat penyakit asma. Ia mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, selalu mengenakan masker pelindung, dan segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala gangguan pernapasan yang memburuk.