Perkembangan kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV) di Indonesia menunjukkan tren yang sangat positif dalam beberapa tahun terakhir. Namun, karakteristik geografis yang beragam, kemacetan lalu lintas, hingga keterbatasan infrastruktur pengisian daya di daerah pelosok masih menjadi tantangan nyata bagi konsumen yang menginginkan mobilitas praktis. Menjawab kebutuhan tersebut, BYD memperkenalkan teknologi Dual Mode (DM) sebagai solusi transisi elektrifikasi yang dinamis.
Teknologi Dual Mode dari produsen otomotif global ini mengusung pendekatan electric-first. Sistem ini mengintegrasikan keunggulan mobil listrik murni (EV) dan mesin hibrida (hybrid). Dalam operasionalnya, motor listrik bertindak sebagai penggerak utama untuk memberikan sensasi berkendara yang responsif dan kabin yang senyap, sementara mesin konvensional lebih difungsikan sebagai generator penyokong daya listrik.
Keunggulan utama dari sistem ini terletak pada efisiensinya yang luar biasa untuk menekan konsumsi bahan bakar fosil. Berdasarkan pengujian internal sejauh 150 kilometer, biaya operasional kendaraan dengan teknologi DM ini hanya berkisar Rp300 per kilometer dengan potensi kehematan hingga 65 kilometer per liter. Efisiensi tinggi ini diharapkan mampu mengikis kekhawatiran jarak tempuh sekaligus menjadi solusi di tengah fluktuasi harga bahan bakar.
Kehadiran teknologi ini kian memperkuat penetrasi BYD di pasar otomotif tanah air. Langkah strategis ini sangat relevan mengingat BYD bersama Denza dilaporkan telah menguasai lebih dari 40 persen pangsa pasar kendaraan listrik nasional. Dengan menggabungkan kepraktisan mesin konvensional dan efisiensi motor listrik, teknologi DM diproyeksikan menjadi jembatan ideal bagi masyarakat Indonesia menuju era mobilitas ramah lingkungan yang menyeluruh.