Jawa Timur mulai membuka jalan lebih luas untuk memperkuat ekosistem teknologi berbasis kecerdasan buatan. Sejumlah perwakilan pemerintah daerah, pelaku usaha, dan tokoh teknologi Indonesia bertemu dengan pejabat Daerah Otonomi Guangxi Zhuang, China, dalam agenda tatap muka di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu (27/6/2026).

Pertemuan tersebut membahas peluang kerja sama skala besar di bidang Artificial Intelligence (AI), mulai dari pengembangan talenta, pemanfaatan data, hingga penerapan teknologi cerdas pada sektor-sektor strategis. Guangxi dinilai memiliki posisi penting karena Nanning menjadi pusat China (Guangxi) Pilot Free Trade Zone atau GXFTZ yang aktif menawarkan berbagai skema investasi dan inovasi.

Dewan Pertimbangan sekaligus Penasehat Kadin Jawa Timur, Dr. Ir. Jamhadi, MBA, menyebut dialog antardelegasi berlangsung konstruktif. Ia memimpin sekaligus memoderatori pertemuan tersebut dan menyampaikan bahwa pihak Guangxi menunjukkan minat besar untuk membangun kemitraan teknologi dengan Jawa Timur.

“Agenda one on one meeting dengan pejabat tinggi Daerah Otonomi Guangxi Zhuang berjalan lancar. Mereka menaruh perhatian pada kerja sama di bidang Artificial Intelligence untuk mendukung penguatan berbagai sektor industri,” ujar Jamhadi dalam keterangan tertulis, Minggu (28/6/2026).

Dalam kesempatan itu, Jamhadi juga menjelaskan skema insentif yang sempat beredar terkait fasilitas lahan 500 meter persegi dan dukungan dana 5 juta RMB atau sekitar Rp13 miliar dari Pemerintah Nanning. Menurut dia, fasilitas tersebut bukan hibah otomatis bagi setiap investor, melainkan bagian dari mekanisme seleksi inovasi dan penjaringan talenta internasional melalui Program Yongjiang.

Ia menegaskan, insentif yang disiapkan Nanning untuk sektor teknologi cerdas diberikan berdasarkan capaian kinerja. Dukungan pendanaan berbentuk matching fund atau dana pendamping yang dicairkan bertahap sesuai perkembangan proyek, terutama bagi peserta yang lolos seleksi dan mampu memenuhi target inovasi.

Adapun fasilitas ruang kerja seluas 500 meter persegi di tech park atau inkubator China-ASEAN AI Innovation Cooperation Center ditujukan bagi perusahaan yang benar-benar menjalankan operasional di kawasan tersebut. Otoritas setempat disebut sedang mencari mitra dari Indonesia untuk pengembangan pelatihan model komputasi, anotasi data, dan implementasi AI di sektor pendidikan, pariwisata, serta ketahanan agraria.

Merespons peluang tersebut, delegasi Jawa Timur juga membawa sejumlah tawaran investasi. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pengembangan pusat data, keamanan siber, dan bisnis digital berskala besar di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari. Rencana ini akan disiapkan lebih lanjut untuk diajukan secara resmi kepada Gubernur Jawa Timur.

Selain bidang digital, delegasi juga memaparkan potensi kerja sama lain, termasuk pengembangan fasilitas industri, konsep smart building, investasi pembangkit listrik tenaga diesel berkapasitas 30 megawatt di Sumenep, serta program smart farming di atas lahan siap pakai seluas 4.500 hektare yang dikelola mitra lokal.

Pertemuan tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh dan perwakilan lembaga, antara lain Prof. Dr. Ir. Marsudi Wahyu Kisworo dari Dewan Pengarah BRIN yang juga memimpin Apvokasi, pakar teknologi informasi Prof. Ir. Onno Widodo Purbo, serta Nurlina Noertam Purbo dari Onno Center. Dari unsur pemerintah daerah, Kepala DPMPTSP Provinsi Jawa Timur, Dr. Ir. Dyah Wahyu Ermawati, hadir mewakili Gubernur Jawa Timur. Sektor perbankan diwakili oleh Nathalia Nuryani SE atau Amey.

Kolaborasi yang dijajaki ini diharapkan tidak hanya mempercepat transformasi digital Jawa Timur, tetapi juga membuka akses investasi baru yang dapat memperkuat daya saing ekonomi daerah di tengah pertumbuhan industri berbasis teknologi.