Kelompok tani Lembah Spora di Desa Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, kini dapat tersenyum lega berkat inovasi teknologi tepat guna yang dihadirkan oleh tim dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Melalui program pengabdian masyarakat, akademisi UMS memperkenalkan mesin oven pengering berskala 10 rak untuk mempercepat proses pascapanen jamur kuping.

Kehadiran mesin pengering ini secara signifikan mengubah metode kerja petani setempat. Proses pengeringan jamur kuping yang semula sangat bergantung pada sinar matahari dan memakan waktu hingga dua hari, kini dapat diselesaikan hanya dalam kurun waktu empat hingga lima jam saja dengan suhu konstan mencapai 110 derajat Celsius.

Ketua tim pengabdian UMS, Dessy Ade Pratiwi, S.T., M.T., menjelaskan bahwa program ini didanai oleh hibah dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Inisiatif ini dirancang sebagai solusi konkret bagi petani yang kerap menghadapi kendala produktivitas, terutama saat cuaca buruk melanda daerah tersebut.

Tak hanya memberikan bantuan fisik berupa mesin oven, tim pengabdian yang bergerak aktif sejak Mei hingga Juli 2026 ini juga membekali warga dengan program pemberdayaan komprehensif. Sebanyak 15 anggota kelompok tani Lembah Spora, yang didominasi oleh ibu rumah tangga, dilatih dalam hal pembukuan keuangan praktis, pengelolaan toko online, hingga teknik pemasaran digital guna menjangkau konsumen di tingkat nasional.

Ketua kelompok tani Lembah Spora, Endang Susilowati, menyambut baik kontribusi positif dari perguruan tinggi tersebut. Ia menuturkan bahwa teknologi ini menjaga stabilitas kapasitas produksi kelompoknya sekaligus meningkatkan kualitas kebersihan serta konsistensi mutu jamur kering yang mereka hasilkan.

Melalui model pemberdayaan ini, pihak akademisi UMS berharap kelompok tani di Polokarto dapat menjadi pelopor kemandirian ekonomi lokal. Sistem pengeringan modern dan strategi pemasaran berbasis digital ini ditargetkan mampu direplikasi oleh sentra budidaya jamur lainnya di wilayah Jawa Tengah.