Tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari berhasil menorehkan prestasi gemilang di kancah nasional. Melalui inovasi bernama Sistem Indikasi Analisis Kesehatan Urinaria dan Reproduksi (SI-AKUR), tim yang beranggotakan Cressendo Reifaldi, Aldu Three Bintang Aksa, dan Nabil Syayyid Alfatih sukses menyabet Juara I dalam ajang MEDSMOTION 2026 yang diselenggarakan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta pada pertengahan Juli lalu.
SI-AKUR lahir sebagai jawaban atas tingginya angka keterlambatan penanganan penyakit urinaria dan saluran reproduksi di Indonesia. Masalah ini sering kali dipicu oleh minimnya akses layanan kesehatan serta masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan medis secara berkala sejak dini.
Teknologi ini mengintegrasikan dua elemen penting, yakni strip uji berbasis bahan alami lokal dan aplikasi pintar berbasis kecerdasan buatan (AI). Strip indikator tersebut memanfaatkan ekstrak bunga telang, kunyit, dan pinang guna mendeteksi tiga indikator utama gangguan kesehatan: tingkat keasaman (pH), indikasi inflamasi, serta kadar nitrit dalam sampel urine.
Cara pengoperasiannya dirancang sangat praktis agar mudah digunakan oleh masyarakat luas. Pengguna cukup mencelupkan strip ke dalam sampel urine, lalu memotret perubahan warna strip menggunakan kamera ponsel. Aplikasi SI-AKUR kemudian memanfaatkan teknologi AI untuk menganalisis perubahan warna tersebut, memadukannya dengan kuesioner gejala mandiri, lalu memberikan kesimpulan skrining awal serta rekomendasi fasilitas medis terdekat.
Salah satu anggota tim, Cressendo Reifaldi, mengungkapkan bahwa proses riset dan penyusunan konsep ini memakan waktu sekitar dua bulan. Tantangan terbesar mereka adalah menyederhanakan formula ilmiah yang rumit menjadi konten edukasi yang mudah dipahami publik tanpa mengurangi nilai ilmiahnya. Ia pun mengapresiasi dukungan penuh dari pihak FK UHO yang terus mendampingi perjuangan mereka hingga tingkat nasional.
Kendati telah mendapat pengakuan nasional, pengembangan SI-AKUR dipastikan akan terus berlanjut. Tim mahasiswa ini berkomitmen melakukan uji klinis dan penelitian lanjutan guna meningkatkan akurasi sistem AI serta membuka peluang kolaborasi dengan akademisi, praktisi medis, dan sektor industri agar alat ini siap diproduksi secara massal.