Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT), metode pembelajaran di ruang kelas dituntut untuk bertransformasi. Alih-alih hanya berfokus pada hafalan teori, dunia pendidikan kini didorong untuk melahirkan generasi yang memiliki daya nalar tinggi dan mampu memecahkan persoalan nyata di tengah masyarakat.

Menjawab tantangan tersebut, Susi Susanti, S.Pd., seorang tenaga pendidik di SDN Proklamasi Compreng, Kabupaten Subang, menginisiasi inovasi pembelajaran berbasis proyek melalui pembuatan SmartIoT Flood Alarm. Proyek sistem peringatan dini banjir sederhana ini memanfaatkan teknologi sensor ultrasonik, ESP32, serta konektivitas IoT guna memberikan pengalaman belajar yang aplikatif bagi para siswa sekolah dasar.

Pemilihan topik bencana banjir didasari oleh realitas geografis Indonesia yang kerap menghadapi ancaman hidrometeorologi. Melalui simulasi mitigasi bencana ini, para murid diajak berdiskusi tentang pemanfaatan teknologi untuk memecahkan masalah lingkungan sekitar, sehingga proses belajar terasa lebih bermakna karena berpijak pada problem riil.

Dalam praktiknya, sebelum merakit perangkat fisik, siswa terlebih dahulu melakukan simulasi digital untuk meminimalisasi ketakutan akan kegagalan. Pendekatan ini terbukti mengubah paradigma belajar siswa dari yang semula sekadar mencari jawaban benar, kini beralih menjadi lebih kolaboratif, berani mencoba, serta aktif menganalisis kesalahan sistem.

Susi menekankan bahwa pemanfaatan AI dalam pembelajaran hanyalah alat bantu eksplorasi ide, bukan pengganti kemampuan berpikir kritis manusia. Pengalaman berharga dari kegiatan Bimbingan Teknis Pemanfaatan TIK dan Literasi AI yang diikutinya semakin memperkuat keyakinan bahwa esensi pendidikan terletak pada pembentukan empati, kreativitas, dan daya nalar siswa untuk masa depan.