Paradigma tradisional yang meyakini bahwa tanaman padi harus selalu tergenang air kini mulai bergeser. Menghadapi tantangan perubahan iklim serta keterbatasan sumber daya air, metode pengairan berselang atau Alternate Wetting and Drying (AWD) hadir sebagai solusi inovatif dalam model Pertanian Modern Model AAS (PM-AAS).

Metode AWD bekerja dengan menerapkan siklus basah dan kering pada lahan persawahan secara terukur. Lahan digenangi air setinggi lima sentimeter, kemudian dibiarkan mengering hingga permukaan air mencapai 15 sentimeter di bawah tanah sebelum dialiri kembali. Proses ini memungkinkan akar padi mendapatkan pasokan oksigen yang lebih optimal, sehingga tanaman tumbuh lebih kokoh dan sehat dibandingkan dengan sistem penggenangan terus-menerus.

Secara teknis, efisiensi air yang dihasilkan metode ini mencapai 20 hingga 30 persen. Selain menghemat sumber daya, teknik ini juga efektif menekan emisi gas rumah kaca dari lahan sawah. Untuk memantau kebutuhan air, petani dapat memanfaatkan pipa PVC berlubang yang ditanam di lahan sebagai indikator praktis kapan waktu yang tepat untuk melakukan irigasi kembali.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa manajemen air yang efisien merupakan kunci krusial dalam menjaga ketahanan pangan nasional di masa depan. Penerapan teknologi seperti AWD diharapkan mampu memitigasi risiko kekeringan sekaligus menjaga stabilitas produktivitas di tingkat petani, sejalan dengan visi modernisasi sektor pertanian di tengah ancaman iklim yang tidak menentu.