Upaya transisi menuju energi bersih di Indonesia kini mendapatkan momentum baru melalui pemanfaatan limbah agroindustri. Pusat Riset Kimia Molekuler Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru-baru ini memperkenalkan inovasi pemanfaatan ampas penyulingan rimpang jahe (Zingiber officinale) sebagai bahan baku pembuatan biobriket berkualitas tinggi.

Prof. Anny Sulaswatty, peneliti utama dalam proyek ini, menjelaskan bahwa limbah dari industri minyak atsiri dan herbal selama ini melimpah namun belum terkelola secara optimal. Padahal, limbah rimpang jahe memiliki kandungan lignin yang cukup tinggi, mencapai 45,98 persen, yang merupakan syarat krusial untuk menghasilkan bahan bakar biomassa yang efisien.

Proses transformasi limbah ini dilakukan melalui tahapan karbonisasi untuk menciptakan biochar yang kemudian dicampur dengan bahan perekat khusus. Melalui pengujian intensif pada berbagai parameter seperti nilai kalor, kadar abu, dan kuat tekan, tim peneliti berhasil mengidentifikasi formulasi optimal yang memungkinkan biobriket ini memiliki performa pembakaran stabil setara dengan standar bahan bakar padat.

Selain memberikan solusi atas masalah penumpukan residu di pabrik penyulingan, teknologi ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi sektor UMKM. Dengan mengubah residu yang sebelumnya tidak bernilai menjadi komoditas energi, inovasi ini diproyeksikan mampu menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus mengurangi emisi karbon secara signifikan.

Implementasi teknologi ini diharapkan dapat diadopsi oleh pelaku industri pengolahan jahe di berbagai daerah. Langkah ini tidak hanya mendukung efisiensi pengelolaan limbah, tetapi juga memperkuat penerapan ekonomi sirkular yang berkelanjutan dalam pemanfaatan potensi sumber daya alam nasional.