Industri manufaktur elektronik di Indonesia tengah menghadapi tantangan berat akibat pelemahan daya beli masyarakat. Kapasitas produksi atau tingkat utilisasi pabrik-pabrik elektronik nasional dilaporkan belum mampu mencapai level optimal dan masih tertahan di angka yang cukup rendah.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Komoditi Elektronik (Apkonik), Deny Irawan, mengungkapkan bahwa rata-rata utilisasi pabrik anggota asosiasi saat ini hanya berkisar antara 65 hingga 70 persen. Angka tersebut sejalan dengan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha yang dirilis oleh Bank Indonesia, yang menunjukkan adanya tekanan pada aktivitas industri pengolahan secara umum.
Menurut Deny, penurunan kinerja operasional ini dipicu oleh melambatnya permintaan, baik dari pasar domestik maupun ekspor. Di dalam negeri, konsumen kini cenderung menahan belanja untuk barang-barang tahan lama (durable goods) seperti produk elektronik dan lebih memprioritaskan kebutuhan pokok di tengah ketidakpastian ekonomi.
Sementara itu di ceruk pasar ekspor, perlambatan ekonomi global serta ketegangan geopolitik internasional turut menekan permintaan dari negara-negara tujuan utama. Akibatnya, volume pengiriman produk elektronik ke luar negeri belum menunjukkan pemulihan yang signifikan.
Guna mengatasi situasi ini, Apkonik mendorong pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Beberapa langkah taktis yang diusulkan antara lain mendongkrak daya beli masyarakat, mempercepat penyerapan belanja negara, serta merumuskan regulasi yang mampu meningkatkan daya saing industri dalam negeri agar sektor ini dapat tumbuh berkelanjutan.
Kendati menghadapi tantangan, pelaku usaha tetap optimistis bahwa Indonesia memiliki peluang besar di tengah tren diversifikasi rantai pasok global oleh sejumlah perusahaan multinasional. Sinergi yang solid antara pemerintah dan pelaku industri diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai basis manufaktur strategis di kawasan regional.