Peringkat Indonesia dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI) 2025/2026 mengalami penurunan satu tangga ke posisi keempat dunia. Penurunan ini memicu desakan dari berbagai kalangan agar Indonesia segera membenahi ekosistem industri halalnya, mengingat potensi pasar domestik yang melimpah belum terkonversi optimal menjadi kekuatan ekspor global.
Berdasarkan laporan terbaru GIEI, pasar ekonomi halal global terus mencatat pertumbuhan signifikan dengan nilai mencapai 2,6 triliun dolar AS pada tahun 2024, dan diproyeksikan melonjak hingga 3,56 triliun dolar AS pada 2029. Isu krusial ini mengemuka dalam diskusi publik bertajuk "Masa Depan Ekonomi Halal RI" yang diselenggarakan oleh Universitas Paramadina bersama Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF di Jakarta.
Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Indonesia, M. Arsjad Rasjid, menekankan bahwa Indonesia harus menggeser perannya dari sekadar konsumen menjadi produsen utama di kancah global. Meski Indonesia memimpin di sektor modest fashion (peringkat pertama) serta menunjukkan taji di sektor media dan rekreasi (peringkat ketiga) serta farmasi dan kosmetik (peringkat keempat), sektor tata kelola (governance) masih menjadi titik lemah karena berada di peringkat ke-16 dunia.
Kendati demikian, Arsjad mengapresiasi langkah strategis pemerintah yang telah menyepakati 92 Mutual Recognition Agreement (MRA) dengan 24 negara guna membuka jalur ekspor produk lokal. Ia juga menyerukan pentingnya sinergi inklusif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk kelompok nonmuslim, untuk bersama-sama memperkuat industri halal nasional.
Senada dengan hal tersebut, Ketua CSED INDEF Nur Hidayah menyoroti tantangan transformasi dari negara konsumen menjadi produsen berskala global. Menurutnya, lompatan ini hanya bisa dicapai melalui kolaborasi erat dalam riset dan inovasi yang melibatkan akademisi, lembaga penelitian, pelaku usaha, serta pemerintah guna menghasilkan produk yang bernilai saing tinggi.
Di sisi lain, Wakil Ketua CSED INDEF Handi Risza memaparkan konsep Capital, Governance, dan Inclusivity (CGI) sebagai pilar utama akselerasi ekonomi halal. Ia mencontohkan pangsa pasar industri keuangan syariah nasional yang stagnan di kisaran 7 persen akibat minimnya variasi produk keuangan serta lemahnya koordinasi regulasi antarlembaga, sebuah pekerjaan rumah besar yang harus segera diselesaikan demi mewujudkan ekosistem yang terintegrasi.