Langkah nyata menuju era transportasi ramah lingkungan di Indonesia resmi dimulai dengan peluncuran uji coba Bus Hidrogen Diesel Dual Fuel (Bus H2 DDF). Bersamaan dengan itu, pemerintah juga memperkenalkan proyek pengembangan koridor hijau hidrogen (Green Hydrogen Corridor) sepanjang 194 kilometer yang menghubungkan Jakarta, Karawang, hingga Patimban. Inisiatif strategis ini dipaparkan dalam ajang Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026 di Jakarta.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa pemanfaatan hidrogen selaras dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kedaulatan energi nasional. Di tengah ketidakpastian geopolitik global yang mengganggu pasokan minyak bumi, hidrogen dinilai sebagai alternatif krusial untuk mengamankan ketahanan energi dalam negeri sekaligus mendorong hilirisasi industri.

Kendati demikian, tantangan biaya produksi hidrogen yang belum kompetitif dibanding bahan bakar minyak (BBM) fosil atau biodiesel B50 masih membayangi. Namun, Bahlil optimis bahwa seiring berkembangnya teknologi dan menipisnya cadangan minyak bumi baru akibat konflik global, efisiensi produksi hidrogen akan meningkat sehingga harganya menjadi lebih kompetitif dalam waktu dekat.

Proyek percontohan ini memodifikasi bus diesel milik Perum DAMRI agar dapat beroperasi menggunakan kombinasi solar dan hidrogen. Bus bermesin Hino enam silinder berkapasitas 7.684 cc ini dilengkapi dengan 16 tabung penyimpanan hidrogen berkapasitas masing-masing 50 liter. Proyek kolaboratif ini melibatkan Kementerian ESDM, PT PLN (Persero), Perum DAMRI, PT Tritunggal Prakarsa Global selaku pelaksana proyek, serta PT Sucofindo (Persero) sebagai lembaga pengujian independen.

Hasil pengujian oleh PT Sucofindo menunjukkan performa lingkungan yang signifikan dari teknologi ini. Penerapan sistem dual fuel hidrogen-diesel ini berhasil mereduksi emisi opasitas hingga 57,66 persen, karbon monoksida sebesar 45,45 persen, karbon dioksida sebesar 39,37 persen, serta nitrogen oksida sebesar 21,16 persen. Solusi transisi ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada solar tanpa perlu meremajakan seluruh armada bus secara instan.