Indonesia diingatkan untuk segera bersiap menghadapi era teknologi komputasi kuantum yang sudah menjadi arena persaingan global. Para ahli menegaskan, jika negara ini tidak segera menyusun peta jalan strategis, maka akan semakin tertinggal dan hanya menjadi konsumen teknologi canggih yang dikembangkan bangsa lain.

Ketua Jogja Startup Foundation, Anggoro, menekankan urgensi hal ini dalam keterangannya pada Kamis (25/6/2026). Ia menjelaskan bahwa teknologi kuantum berpotensi mengubah lanskap berbagai sektor strategis, mulai dari kesehatan, industri, hingga keamanan siber. Negara yang lebih cepat menguasainya akan mendominasi keunggulan ekonomi dan teknologi di masa depan.

Komputer kuantum, menurut Anggoro, memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah tertentu jauh lebih cepat dibandingkan komputer konvensional. Kemampuan ini dapat memacu penemuan obat baru, perancangan material canggih, optimasi logistik, peningkatan kecerdasan buatan, hingga penguatan sistem pertahanan.

Sisi lain yang mengkhawatirkan, teknologi kuantum juga dapat mengubah standar keamanan digital. Komputer ini berpotensi memecahkan metode enkripsi yang saat ini melindungi sistem perbankan, pemerintahan, dan transaksi elektronik. Peta persaingan global saat ini didominasi oleh Amerika Serikat dan Tiongkok.

AS, melalui perusahaan seperti IBM, Google, dan Microsoft, gencar mengembangkan ekosistem kuantum. Sementara itu, Tiongkok menggelontorkan investasi besar untuk riset, membangun jaringan komunikasi kuantum, dan menyiapkan sumber daya manusia sejak dini. Baru-baru ini, Presiden AS Donald Trump menandatangani dua perintah eksekutif untuk mempercepat pengembangan komputasi kuantum di negaranya.

Melalui kebijakan tersebut, pemerintah AS menginstruksikan berbagai lembaga negara untuk bekerja sama dengan sektor swasta. Targetnya adalah menghasilkan komputer kuantum untuk penelitian ilmiah paling lambat pada tahun 2028. Beberapa perusahaan teknologi besar AS bahkan menargetkan komputer kuantum komersial skala besar pertama dapat terwujud pada 2029.

Beberapa negara Eropa, seperti Jerman dan Belanda, juga tidak mau ketinggalan. Mereka terus memperkuat kolaborasi riset agar tidak tergilas dalam perlombaan teknologi ini. Namun, kondisi Indonesia justru masih belum mengarah pada sebuah strategi yang jelas dan terintegrasi.

Anggoro menilai, Indonesia saat ini masih bergerak secara parsial. Belum ada strategi nasional yang mampu menyatukan riset, perguruan tinggi, industri, serta investasi di bidang teknologi kuantum. "Kalau kita tidak berbenah diri, membangun hanya secara sporadis, kita akan semakin terbelakang dan menjadi primitif dalam persaingan teknologi global," ujarnya dengan nada waspada.

Ia mendesak pemerintah untuk mulai menempatkan pengembangan teknologi kuantum sebagai agenda strategis nasional. Langkah konkret yang diperlukan meliputi peningkatan investasi riset, pengembangan sumber daya manusia berkualitas, serta memperkuat kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah. Tujuannya adalah memastikan Indonesia tidak tertinggal dalam gelombang revolusi teknologi berikutnya.

Pandangan senada juga disampaikan oleh Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda. Ia menilai, lambatnya percepatan teknologi kuantum di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari prioritas kebijakan yang masih berkutat pada isu-isu dasar. "Indonesia masih mengurus program makan gratis, makanya tertinggal dalam hal teknologi kuantum," selorohnya.