Jakarta - Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang kembali melanda industri teknologi pada tahun 2026 dinilai memiliki karakteristik yang sangat berbeda dibanding tren serupa pada periode 2022-2023. Fenomena kali ini dinilai bukan lagi sekadar penyesuaian siklus bisnis biasa, melainkan sebuah pergeseran struktural yang mendalam.
Research Associate Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Deniey Adi Purwanto, menjelaskan bahwa pemangkasan tenaga kerja saat ini dipicu oleh perubahan struktur produksi. Industri teknologi global maupun domestik kini mulai mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) secara masif untuk menggantikan peran operasional manusia.
Menurut analisis INDEF, dinamika industri teknologi telah melewati beberapa fase krusial. Pada periode 2020-2021, terjadi ledakan digital (digital blooming) yang didorong oleh iklim suku bunga rendah, memicu menjamurnya startup baru. Memasuki tahun 2022-2023, langkah efisiensi mulai diambil dengan menyasar divisi pendukung seperti administrasi dan sumber daya manusia (HR).
Namun pada tahun 2026, efisiensi tersebut telah merambah ke ranah operasional dan teknis. Deniey menegaskan bahwa otomatisasi berbasis AI kini telah siap mengambil alih berbagai peran inti yang sebelumnya membutuhkan keahlian teknis manusia, menandai era baru tantangan ketenagakerjaan di sektor digital.